Minggu, 04 Mei 2025

Khutbah Bulan Zulhijjah : 3 Hikmah Ibadah Qurban

 Oleh : Azirwan Mustaqim, ST

Kembali kita bersyukur kepada Allah SWT, sampai pada hari ini dimana bertemunya dua kemuliaan, kemuliaan hari Jum’at sebagai sayyidul ayyam dan kemuliaan bulan Zulhijjah salah satu dari 4 bulan Harom yang dimuliakan Alloh. Yang 10 hari pertamanya merupakan hari-hari terbaik untuk beramal.

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah) (HR Abu Daud)

 

Dan hari ini kita telah memasuki hari yang ke 3 dari 10 hari yg mulia itu. Allah swt masih beri kita nikmat hidup, badan yang sehat dan Istiqomah dalam iman dan Islam. Untuk itu kita bersyukur dengan ucapan الحمد لله رب العلمين

dan bersholawat kepada Baginda Nabi Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad...

 Jamaah jum’at Rohimakumulloh...

Lebih kurang 7 hari lagi kita akan merayakan salah satu hari besar Islam, yakni Hari Raya Idul Adha atau juga sering kita sebut Hari Raya Qurban, karena pada hari itu ada satu ibadah khusus yang Alloh syari’atkan bagi kita, yakninya ibadah Qurban. Ada banyak sekali hikmah dan keutamaan dari ibadah qurban ini diantaranya:

Yang Pertama: Ibadah Qurban Merupakan Bukti Syukur Kepada Alloh SWT.

Dalam surat yang paling pendek dalam Alqur’an Alloh Berfirman:   

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sungguh Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.”   Berapa banyaknya?

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kamu hendak menghitung banyaknya nikmat Alloh itu, maka kamu pasti tidak akan pernah sanggup menghitungnya”

dalam Ayat lain Alloh jelaskan lagi:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ

Kenikmatan apa saja yang kamu rasakan, semuanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. An-Nahl[16]: 53)

Lalu bagaimana cara kita mensyukuri semua nikmat Alloh itu? Maka lanjutan ayat yg pertama khotib sampaikan tadi:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah

Alhamdulillah siang ini ringan kaki melangkah, tangan terayun utk datang ke masjid ini, untuk melaksanakan sholat jum’at, salah satu bentuk ungkapan rasa syukur kita kepada Alloh atas nikmat sehat, atas nikmat hidup yang Alloh berikan. Namun belum cukup hanya dengan sholat jumat, tak cukup hanya dengan sholat fardhu, tapi Alloh juga perintahkan kita untuk berqurban, sebagai tanda ungkapan syukur kepadaNya atas segala nikmat yang telah diberikanNya terutama atas nikmat harta yang telah Alloh cukupkan dan Alloh lebihkan.

Maka sampai di tgl 3 Zulhijjah ini Sudahkah kita daftarkan diri kepada panitia? Sudahkah kita sisihkan sebagian harta kita, sebagian dari nikmat Alloh itu untuk melaksanakan ibadah qurban?

Jamaah jum’at Rohimakumulloh...

Hikmah Qurban Yang Kedua:

Qurban Merupakan Bukti Kepatuhan dan Ketaatan kepada Alloh.

Karena qurban akan mengajarkan kita tentang keikhlasan, kepatuhan dan ketaatan dalam menjalankan perintah Alloh SWT Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim Alaihisalam

Demi menjalankan perintah Alloh Nabi Ibrahim sanggup memberikan harta yang paling ia cintai, sanggup mengorbankan apa yang paling ia sayangi, ia rela menyembelih anak kandungnya Ismail Alaihissalam. seorang anak yang sudah begitu lama dinantikan kehadirannya.

Siang malam berdo’a kepada Allah SWT:

 الصَّالِحِينَ مِنَ لِي هَبْ رَبِّ

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh”.

Namun ketika anak itu datang, selagi eratnya berkasih sayang. Nabi Ibrahim diuji oleh Alloh: sanggupkah dia mengalahkan rasa cintanya kepada anak dengan cintanya kepada Alloh? Sanggupkah ia mengorbankan apa yang paling ia cintai demi ketaatannya kepada Alloh?

Karena Alloh berfirman :

لَنْ تَنَلُ الْبِر )kamu tidak akan mendapat kebaikan(

 حَتَّى تُنفِقُو مِمَّا تُحِبُّون

)sampai kau bisa berikan apa yang paling kau cintai(.

Dan Nabi ibrahim lulus dengan ujian itu. Maka Begitu pula dengan kita. Apakah kita juga akan lulus dengan ujian Alloh ini atau tidak?

Apakah kita bisa mengalahkan kecintaan kita kepada harta dengan Cinta kita kepada Alloh? Apakah kita bisa melawan nafsu cinta dunia demi patuh pada perintah Alloh? 

Allah Ta’ala tidak minta anak kita, Allah Ta’ala tak minta jantung hati belaian jiwa kita, karena pasti kita tak akan sanggup memberikannya. Dan Allah tahu itu.

 لاَ يُكَلِّفُ الله نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا

Maka yang diminta Allah hanya apa yang sesuai dengan kemampuan kita, yang diminta Allah hanya sebagian kecil dari nikmat yang telah Allah berikan, sebagai bentuk bukti kepatuhan dan ketaatan kita kepadaNya.   

 Jamaah Jum’at Rohimakumulloh...

Selanjutnya yang ketiga: Ibadah Qurban mempunyai keutamaan dan balasan pahala yang besar dari Alloh SWT.

Berapa besarnya pahala berqurban? Dalam Hadits riwayat  Ibnu Majah Nabi bersabda:

بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ 

“Pada setiap bulunya terdapat satu kebaikan/ pahala.”

Bisa jadi hadits ini bermakna kiasan, ataupun makna yang sesungguhnya. Nabi ingin mengungkapkan betapa besarnya pahala berqurban, karena tak ada kita yang mampu menghitung berapa banyak bulu yang ada pada hewan qurban itu.  Dan dalam hadits yang lain masih riwayat Ibnu Majah: Nabi SAW bersabda:

وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا

sesungguhnya pada hari kiamat hewan qurban itu akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya.

Menjadi saksi dan memberikan pertolongan bagi orang-orang yang berqurban.

Dan ketika hewan qurban itu disembelih, sebelum darahnya menetes ke tanah, maka ridho Alloh sudah terlebih dulu sampai untuk orang yang berqurban. Ampunan Alloh atas dosa-dosanya telah lebih dulu sampai untuk orang-orang yang berqurban itu.

Maka berbahagialah orang-orang yang sudah ikut berqurban tahun ini, dan merugilah orang-orang yang masih menunda untuk berqurban, Karena tak ada yang bisa menjamin apakah kita masih akan hidup tahun depan dan bertemu lagi dengan Idul Adha.

Kalau tahun ini kita mampu berqurban tapi kita tunda, dan ternyata idul Adha tahun depan umur kita tidak sampai, maka sungguh penyesalan tiada berguna yang akan kita rasakan. seperti orang-orang yang diceritakan Alloh dalam Alqur’an:

فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ

Apa kata mereka yang menyesal itu?

“Ya Rabb-ku, andai Engkau tangguhkan kematian ku, andai engkau hidupkan aku kembali walau sesaat,  walau sebentar saja

 فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

maka aku akan bersedekah dan  melakukan amal saleh”

Tapi saat itu sudah terlambat, hanyalah penyesalan yg tiada bermakna.  

Maka Hilangkanlah keraguan di hati kita, buang jauh-jauh pikiran yang menganggap bahwa harta akan berkurang kalau kita berqurban. Karena Allah subhanahu wa ta’ala berjanji  dalam Alqur’an:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ 

dan setiap harta yang kamu infakkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

 

dan Dalam hadits Riwayat  Muslim, Nabi juga bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ  

Sedekah tidaklah mengurangi harta.

inilah jaminan dari Alloh dan RosulNya, bagi orang2 yang bersedekah dan berinfak di jalan Alloh akan diberikan ganti yg lebih baik dari apa yg telah mereka sedekahkan itu.

Maka bagi kita yg sudah terdaftar ikut berqurban tahun ini, Alhamdulillah, mudah-mudahan tetap istiqomah setiap tahunnya, bagi yang belum, padahal dia sudah mampu, maka ingatlah peringatan dari Nabi saw:

     مُصَلاَّنَا يَقْرَبَنَّ فَلا يُضَحِّ فَلَمْ سَعَةً مَنْ وَجَد

Siapa yg punya kelapangan rezki, yg punya kemampuan tetapi tidak berqurban, maka jangan mendekati tempat shalat kami.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Keras dan tegas ancaman dari Nabi.

Dan bagi kita yang ingin tapi belum mampu berqurban tahun ini, maka paling tidak kita berniat dalam hati, dan bersungguh-sungguh dengab niat itu, ada usaha kita untuk mewujudkannya. Bisa dengan menabung mulai hari ini, sedikit demi sedikit dari penghasilan kita tabung agar bisa ikut berqurban tahun depan.

Dan juga tak lupa selalu kita berdo’a kepada Alloh agar Alloh senantiasa memudahkan dan melembutkan hati kita untuk mau ikut berqurban, bersedekah, berinfak dan berwakaf di jalan Alloh swt. Amin...


Minggu, 20 April 2025

3 Cara Menjaga Istiqomah



Oleh : Azirwan Mustaqim, ST

Hari Ini adalah Jum’at ketiga kita di bulan Syawal 1446 H atau hari ke 19 di bulan Syawwal. Maka PR terbesar kita, tugas paling berat setelah Ramadhan selesai adalah menjaga ISTIQOMAH dalam beramal. 

Kita lihat Ketika Ramadhan kemaren masjid dan musholla2 ramai sholat berjama’ahnya. Subuh dan Isya yg biasanya jamaahnya paling sedikit, tapi ketika Ramdhan ramai luar biasa. Namun selesai Ramadhan, masuk bulan Syawwal, setelah merayakan hari kemenangan, bergembira, bersuka cita, lalu apa yg terjadi, masjid dan mushollah kembali sepi, yg terlihat hadir sholat berjama’ah, orangnya  itu2 saja, tetap hanya pemain inti. tak ada bertambah jama’ahnya, bahkan yg paling menyedihkan, justru semakin hari semakin berkurang, karena kalau ada salah satu jamaah yg meninggal, berkuranglah satu jama’ahnya.

Ketika Ramadhan bisa kita puasa 30 hari lamanya, tapi 6 hari di bulan Syawwal sungguh berat rasanya. Atau senin kamis di bulan biasa  juga terasa sulit sekali. Di bulan Ramadhan ringan kita sholat malam, sholat tarawih dan witir 11 Raka’at ada pula yg 23 rakaat, ditambah lagi Tahajud sebelum sahur. Tapi selesai Ramadhan, 2 rakaat Tahajjud saja sulit. Atau 3 rakaat witir sebelum tidur saja terasa berat untuk kita kerjakan. Baca qur’an juga demikian, ketika Ramadhan sanggup 1 juz 1 hari, atau bahkan ada yg 2 juz sehari. Tapi selesai Ramadhan, 1 juz 1 bulan pun tak sempat lagi.  

Maka menjaga istiqomah setelah Ramadhan sangatlah berat, meskipun berat tapi harus bisa kita lakukan, karena diantara tanda diterimanya amal-amal kita selama Ramadhan kemaren adalah bisa menjaga istiqomah. Para ulama sepakat, diantaranya seorang ulama besar Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali,  dalam kitab “Lathiiful-Ma’ārif”  berkata:

فَإِنَّ اللهَ إِذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عَبْدٍ وَفَّقَهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ بَعْدَهُ

“Sesungguhnya, jika Allah menerima amal seorang hamba, (maka) dia diberi taufiq untuk (melakukan) amal shalih setelahnya.”

Maka diantara tanda Amal Allah terima adalah tetap bersemangat mengerjakan amal itu sepanjang hidupnya. Kenapa? Karena dia merasa amalnya itu baru sedikit. Dan juga karena dia merasa nikmat melakukannya, sehingga dia tetap beramal.

Kalau kita mau buat perumpamaan seperti orang yang menikmati makanan. Ketika dia merasa makanan itu nikmat, maka tak cukup baginya jatah yg pertama, dia akan meminta tambah lagi, habis tambah yg pertama minta tambah lagi yg kedua. Maka Ibadah pun begitu.

Dia merasa amalnya ketika Ramadhan ini masih belum cukup maka dia mau tambah lagi selesai Ramadhan.

Tapi bagi orang yang amalnya ditolak, dia seperti orang yg tidak menikmati makanan, jangankan mau tambah, jatahnya yg pertama saja susah menghabiskannya.

Jangankan menambah puasa lagi di bulan Syawal, jatah yg 30 hari itu saja tidak selesai olehnya. Belum lagi habis Ramadhan dia sudah tak puasa, belum lagi habis Ramadhan, dia sudah hilang tak nampak lagi ke masjid, Karena dia tidak menikmatinya. Jangankan menikmati, justru dia merasa tersiksa selama Ramadhan itu. Begitu selesai Ramadhan senangnya luar biasa.

Maka apa tanda amal Allah terima? Tetap semangat untuk beramal setelahnya.

Ketika Ramadhan kemaren senang datang ke masjid berjamaah 5 waktu, selesai Ramadhan kalau tetap rajin berjamaah, walaupun mungkin tidak full 5 waktu, hanya dapat Magrib, isya dan subuh. Insyaallah Tandanya amal Allah terima.

Ketika Ramadhan kemaren rajin baca qur’an, bahkan sampai khatam 2-3x. Kalau Setelah Ramadhan ini masih tetap baca qur’an walaupun tidak sebanyak ketika Ramadhan, hanya 1 lembar sehari, tapi rutin. Insyaallah tanda amal diterima Allah SWT.        

Ketika Ramadhan rajin sedekah. Selesai Ramadhan kalau tetap mau sedekah, tanda amal Allah terima.

Ketika Ramadhan kemaren suka mendengar ceramah, bahkan sampai 2 kali sehari, subuh dan malam sebelum tarwih. Maka kalau selesai Ramadhan ini masih mau mendengarkan ceramah, masih mau hadir di majelis ilmu, walaupun hanya sekali sepekan, insyaallah tanda amal Allah terima.

Maka pentingnya menjaga istiqomah. Tetaplah semangat dalam beramal,

Meskipun memang berat, tidak semudah mengucapkannya. Namun kita harus berusaha, bagaimana caranya?  Nabi bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang dilakukan terus menerus, kontinu, berkelanjutan walaupun itu sedikit”  (HR.Muslim no 1305)

Maka yg pertama adalah, Jaga istiqomah itu dengan tetap beramal walaupun hanya sedikit, jangan sampai ditinggalkan. Tetaplah bangun malam tahajjud walau hanya 2 rakaat, tetaplah witir walau hanya 1 rakaat, tetaplah baca qur’an walau hanya 1 halaman, tetaplah sedekah walau hanya berapa sanggup kita, tetaplah berbuat baik dengan apa yg bisa kita perbuat, walau hanya dengan hal yg paling kecil sekalipun. Jangan tinggalkan.

Lalu Cara kedua menjaga istiqomah adalah dengan berjama’ah.

فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

Hendaklah kalian berjamaah, karena serigala hanya memangsa kambing yang sendirian (HR. An-Nasa’i 838)

Berjamaah di dalam masjid ketika sholat, berjamaah pula diluar masjid, berkawan dg orang2 baik, bersahabat dg orang yang akan membawa kita pada kebaikan, yang akan mengingatkan ketika kita lupa, meluruskan ketika kita salah, menguatkan ketika kita lemah.

 

Hidup ini tak bisa sendiri, ibadahpun lebih sulit dan berat kalau sendiri, setan akan lebih mudah melalaikan kita ketika sendiri, maka kalau ada majelis2 ilmu ikut, ada perkumpulan2 yang mengarah pada kebaikan gabung. Hendaklah berjamaah, karena masuk surga itupun kita tidak sendiri2, tapi secara berjamaah.

وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗ

Orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan

حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا

Ketika  mereka telah sampai di sana dan pintu-pintunya telah dibuka, para penjaganya berkata kepada mereka

 سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ

“Salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu), berbahagialah kamu. Maka masuklah ke dalamnya (untuk tinggal) selama-lamanya!” (QS. Az-Zumar 73) 

Insyaallah Mudah-mudahan kita akan sampai kesana, masuk ke surga itu bersama dengan para sahabat, kawan, keluarga, dan orang2 yang kita cintai yang bersama kita ketika di dunia ini. Bersama di dunia juga bersama di surga. 

Selanjutnya yg ketiga, cara menjaga Istiqomah.

Dengan selalu berdo’a kepada Allah SWT minta pertolongan kepada Allah, Minta kepada Allah agar menguatkan hati kita.

“Ya Muqollibal qulub, Tsabbit qolbi ‘ala dinik, wa’ala tho’atik”

Wahai engkau yg maha membolak balikkan hati, kokohkanlah hatiku dalam agamamu, dan dalam ketaatan kepadamu”

Karena sejatinya kita tidak akan mampu untuk istiqomah kecuali dengan pertolongan Allah. sebagaimana kita nyatakan dalam setiap sholat:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

(Hanya kepadamu kami beribadah, dan hanya kepadamu kami minta pertolongan)

Karena sesungguhnya kita takkan mampu datang ke masjid ini kecuali Allah yg menggerakkan hati kita. Yg memberikan taufik dan hidayah kepada kita. 

Mudah-mudahan Allah terima segala amal kita, dan kita termasuk hamba-hamba yg Allah berikan taufik dan hidayah untuk bisa tetap Istiqomah dalam iman dan dalam beramal soleh..

Amin Ya Rabbal’alamin...

LINK DOWNLOAD PDF : 3 Cara Menjaga Istiqomah

Link Video Youtube

Jumat, 04 April 2025

TANDA DITERIMANYA AMAL



Oleh : Azirwan Mustaqim, ST

Hari Ini adalah Jum’at pertama kita di bulan Syawal 1446 H. 5 hari sudah bulan Ramadhan pergi meninggalkan kita. Apakah dia akan datang lagi? Ya dia akan datang lagi tahun depan. Tapi apakah kita masih akan berjumpa dengannya? Wallahu a’lam.. tak ada yg tahu, dan tak ada yg bisa menjamin.

Siapa yang mengisi hari-harinya dalam bulan Ramadhan dengan ibadah dan amal soleh, maka beruntunglah dia. Siapa yang menjalaninya dengan sia-sia maka merugilah dia. Bahkan tak hanya rugi, tapi dia termasuk orang yg celaka. Dido’akan oleh malaikat Jibril, diaminkan oleh Nabi Muhammad :

بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يَغْفَرْ لَهُ

Celakalah orang yang berjumpa dengan Ramadhan tapi tidak mendapatkan ampunan Allah. (HR. Al-Hakim & Baihaqi)

Sampai umurnya ke bulan Ramadhan, berjumpa dia dengan Ramadhan, hidup dalam bulan Ramadhan, dalam keadaan sehat pula. Tapi setelah Ramadhan itu pergi, dia tidak termasuk orang yang mendapatkan ampunan Allah, karena tak diisi dengan ibadah, maka celakalah dia. Celaka artinya jauh dari rahmat Allah, kalau sudah jauh dari Rahmat Allah tentu takkan selamat dunia dan akhirat.

Jama’ah Jum’at yg dimuliakan Allah...

Mungkin diantara kita banyak pula yg sudah beramal sampai hari ini, puasa Ramadhan selesai 30 hari, sholat tarwih dan witirnya 30 malam, juga ditambah lagi dengan tahajjudnya, isyroq dan dhuha, berjamaah 5 waktunya, sedekah dan baca qur’annya, mungkin ada kemaren yg 2 kali khatam. Mungkin banyak pula yang sudah mulai melaksanakan  puasa 6 di bulan Syawal.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ

 كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia sseperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

 

Banyak sudah mungkin amal kita, tapi sampai hari ini pula kita belum pernah mendapatkan pemberitahuan apakah semua amal-amal kita itu Allah terima atau tidak. Kita tidak pernah mendapatkan pemberitahuan seperti halnya ketika kita isi ulang pulsa, atau seperti kita transfer/ setor uang. Maka kita tidak tahu apakah amal-amal kita itu Allah terima atau Allah tolak.

Lalu kapan kita tahu amal kita Allah terima atau Allah tolak?

Yaitu nanti ketika sudah innalillahi wa inna ilaihi rajiun, saat kita sudah berada dalam kubur. Disitulah kita akan tahu apakah amal kita Allah terima atau Allah tolak. Nabi bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

"Mayyit diiringi tiga hal, yang dua akan kembali sedang yang satu terus menyertainya, ia diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, sedang amalnya akan terus tetap bersamanya." (HR. Bukhari 6033)

Jadi yang tinggal menemani adalah amalnya, amal baik maupun amal buruk.

Ketika sudah di dalam kubur itu kita akan melihat amal kita. Dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat al-Barro bin ‘Azib Radhiyallahu hadits nya panjang bercerita tentang bagaimana keadaan orang dalam kubur.

Datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, harum semerbak, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka karena kita tak kenal dengan dia, kitapun bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amal shalih mu yang diterima oleh Allah, aku datang untuk menemanimu sampai hari kiamat tiba”.

Kalau itu yang nanti kita alami berarti sah amal kita Allah terima.

Tapi kalau yang datang itu seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, berbau busuk menjijikkan. Kita pun bertanya, siapa engkau? “akulah amal buruk, dosa dan maksiat mu, aku datang untuk menemanimu sampai kiamat tiba”.

Kalau ini yang kita alami, maka sah amal kita ditolak Allah. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah...

Maka ketika itu kita berharap bisa pulang lagi kedunia untuk beramal. Allah sebutkan dalam surat Mukminun ayat 99-100

حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ

hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia)

لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ

agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan

Jama’ah yng dimuliakan Allah....

walaupun Allah tidak kasih tahu kita apakah amal kita Allah terima atau Allah tolak, tapi tandanya ada. Para ulama menjelaskan diantaranya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab “Lathiiful-Ma’ārif”  berkata:

فَإِنَّ اللهَ إِذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عَبْدٍ وَفَّقَهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ بَعْدَهُ

“Sesungguhnya, jika Allah menerima amal seorang hamba, (maka) dia diberi taufiq untuk (melakukan) amal shalih setelahnya.”

 

Maka diantara tanda Amal Allah terima adalah tetap bersemangat mengerjakan amal itu sepanjang hidupnya. Kenapa? Karena dia merasa amalnya itu baru sedikit. Dan dia juga merasa nikmat melakukannya, sehingga dia tetap beramal.

Kalau kita mau buat perumpamaan seperti orang yang menikmati makanan. Ketika dia merasa makanan itu nikmat, maka tak cukup baginya jatah yg pertama, dia akan meminta tambah lagi, habis tambah yg pertama minta tambah lagi yg kedua. Maka Ibadah pun begitu.

Dia merasa amalnya ketika Ramadhan ini masih belum cukup maka dia mau tambah lagi selesai Ramadhan.

Tapi bagi orang yang amalnya ditolak, dia seperti orang yg tidak menikmati makanan, jangankan mau tambah, jatahnya yg pertama saja susah menghabiskannya.

Jangankan menambah selesai Ramadhan, jangankan menambah puasa lagi di bulan Syawal, jatah yg 30 hari itu saja tidak selesai olehnya. Belum lagi habis Ramadhan dia sudah tak puasa, belum lagi habis Ramadhan, dia sudah hilang tak nampak lagi ke masjid, Karena dia tidak menikmatinya. Jangankan menikmati, justru dia merasa tersiksa selama Ramadhan itu. Begitu selesai Ramadhan senangnya luar biasa.

Maka apa tanda amal Allah terima? Tetap semangat untuk beramal setelahnya.

Ketika Ramadhan kemaren senang datang ke masjid berjamaah 5 waktu, selesai Ramadhan kalau tetap rajin berjamaah, walaupun mungkin tidak full 5 waktu, hanya dapat Magrib, isya dan subuh. Insyaallah Tandanya amal Allah terima.

Ketika Ramadhan kemaren rajin baca qur’an, bahkan sampai khatam 2-3x. Kalau Setelah Ramadhan ini masih tetap baca qur’an walaupun tidak sebanyak ketika Ramadhan, hanya 1 lembar sehari, tapi rutin. Insyaallah tanda amal diterima Allah SWT.        

Ketika Ramadhan rajin sedekah. Selesai Ramadhan tetap mau sedekah, tanda amal Allah terima.

Ketika Ramadhan kemaren suka mendengar ceramah, bahkan sampai 2 kali sehari, subuh dan malam sebelum tarwih. Maka kalau selesai Ramadhan ini masih mau mendengarkan ceramah, masih mau hadir di majelis ilmu, walaupun hanya sekali sepekan, insyaallah tanda amal Allah terima.

Maka kata kuncinya adalah istiqomah. Tetaplah semangat dalam beramal,

Meskipun memang berat, tidak semudah mengucapkannya. Namun kita harus berusaha, bagaimana caranya?  Nabi bersabda:

 

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang dilakukan terus menerus, kontinu, berkelanjutan walaupun itu sedikit”  (HR.Muslim no 1305)

Jaga istiqomah itu dengan tetap beramal walaupun hanya sedikit, tapi jangan sampai ditinggalkan.

Jamaah Yg dimuliakan Allah SWT...

Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini bukanlah Ramadhan terakhir bagi kita, tapi kalaupun ternyata ini yg terakhir, insyaallah kita takkan menyesal karena sudah diisi dengan banyak amal soleh.

Mudah2an Allah terima segala amal kita itu, Allah ampuni dosa-dosa kita dan kita termasuk orang yang bertaqwa, Allah tutup usia kita dalam keadaan Husnul Khatimah.. Amiin Ya Rabbal’alamiin..  

DOWNLOAD PDF : TANDA DITERIMANYA AMAL

 LINK YOUTUBE

 

Sabtu, 22 Maret 2025

TIPU DAYA SYAITAN SETELAH RAMADHAN

 Oleh : Ustadz Azirwan Mustaqim, ST

Kaum muslimin jamaah jumat rahimakumulloh..

Bersyukur kepada Alloh swt dengan mengucapkan Alhamdulillah....

Dan Bersholawat kepada Baginda Nabi Allohumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Assalamu’alaika Ya Rasulullah

Marilah senantiasa kita tingkatkan iman dan Taqwa kepada Alloh SWT, dengan mengerjakan semua perintahNya dan menjahui semua laranganNya.

Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, lebaranpun hari ini kita sudah berada di penghujung bulan Syawwal. Maka bagaimana selanjutnya? Apa yang kita lakukan selanjutnya?

Kemaren Selama Ramadhan itu kita menyaksikan bagaimana masjid-masjid penuh, ramai setiap waktunya, terutama ketika sholat isya’ dan subuh. Orang-orang berbondong untuk sholat berjama’ah. Kita bisa melihat bagaimana di saat subuh khususnya tanggal 1 Ramadhan itu kita melihat pemandangan yang aneh, luar biasa, tidak seperti biasanya, sholat subuh berjama’ah hampir sama ramainya seperti sholat tarawih.

Kita pula selalu mendengar lantunan  Al-Qur’an dibacakan. Di berbagai tempat kita saksikan pula orang-orang bersodaqoh, tak hanya di masjid, tapi juga di jalan-jalan, dan di lampu merah. Kita lihat orang-orang berbagi dengan saudaranya. Sungguh luar biasa semangat beribadah kita ketika bulan Ramadhan.

Akan tetapi dengan tenggalamnya matahari tanggal 30 Ramadhan itu, membuat semuanya seolah juga ikut tenggelam. Semangat kita dalam beribadahpun ikut tenggelam. Terlihat bagaimana keadaan di masjid ketika sholat berjamah 5 waktu. Kembali sunyi sepi. Sedih kita melihatnya, terkadang hanya 2-3 orang saja, orangnya pun itu-itu saja, tak ada bertambah, malah berkurang. bahkan terkadang hanya imam sendirian tanpa jamaah.

Tempat-tempat maksiat yang dulunya ditutup selama Ramadhan, mulai dibuka kembali. Bahkan mulai dari tanggal 1 Syawwal, tempat-tempat maksiat itu mulai ramai dikunjungi oleh orang-orang yang kemaren dia makmurkan masjid, yang kemaren ketika Ramadhan mereka  sibuk membaca Alqur’an.

Aneh memang, tapi begitulah yang terjadi setiap tahunnya, setiap selesai bulan Ramadhan, hal yang sama selalu terulang kembali.

Kenapa ini bisa terjadi? Karena memang ketika masuk 1 Syawwal itu, maka syetan-syetan pun lepas dari penjara, terbebas dari belenggu yang mengikatnya selama Ramadhan. Mereka pun mulai kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa, menggoda manusia supaya mereka lalai dari mengingat Allah. Karena dulu ketika iblis diusir oleh Allah dari surga, dia telah bersumpah :

لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ

“aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. Hijr 39)

Iblis berjanji akan membuat kemaksiatan itu tampak indah, mempesona, dan membuat kebaikan, ketaatan, tampak berat dan sulit untuk dikerjakan. Sehingga jiwa manusia sulit untuk diajak menuju kepada Allah setelah Ramadhan selesai.

Kenapa di bulan Ramadhan mudah sekali kita beribadah? Mudah kita puasa selama 30 hari, tapi 6 hari di bulan Syawwal sungguh berat rasanya. Atau senin kamis di bulan biasa juga sulit rasanya.

Di bulan Ramadhan ringan kita sholat malam, sholat tarawih 11 Raka’at ada pula yang 23 rakaat, ditambah lagi Tahajud sebelum sahur. Tapi selesai Ramadhan, 2 rakaat Tahajjud saja sulit, atau 3 rakaat witir sebelum tidur saja berat kita kerjakan.

Sholat berjamaah ketika Ramadhan ringan rasanya, 5 waktu bisa kita kerjakan berjamaah, bahkan subuh yang biasanya berat, ketika Ramadhan jadi senang kita lakukan. Tapi selesai Ramadhan, jangankan subuh, zuhur, ashar, Magrib pun sudah jarang.

Baca qur’an juga demikian, ketika Ramadhan sanggup 1 juz 1 hari, atau bahkan ada yang 2 juz sehari. Tapi selesai Ramadhan, 1 juz 1 bulan pun tak sempat lagi. 

Kenapa ketika Ramadhan Mudah kita beramal, berbuat kebaikan, tapi setelah itu terasa begitu berat. Itulah pekerjaan syetan, mereka mulai kembali melakukan tugasnya, bahkan dia mengatakan:

 لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ

“Aku benar-benar akan menyesatkan mereka semua”

 Bukan berarti yang ustad yang akan selamat, belum tentu yang banyak ibadah yang akan selamat. Tapi yang akan selamat adalah

اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ

kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas diantara mereka.” (QS. Hijr 40)

Maka bagaimana supaya kita selamat dari tipu daya syetan ini?

Yang pertama adalah : Kita Jaga Keikhlasan dalam setiap amal perbuatan kita.

Luruskan niat dalam setiap amal soleh itu, kita lakukan hanya karena Allah SWT saja, bukan karena yang lain, bukan karena takut atau malu kepada orang, bukan karena mengharap pujian, bukan karena mengharap keuntungan dunia, materi, atau bukan karena sekedar ikut-ikutan orang banyak. Tapi murni karena mengharap Ridho dari Allah SWT.

Lalu yang kedua bagaimana supaya kita selamat dari tipu daya syetan.

Yaitu, dengan senantiasa menjaga istiqomah iman kita

Karena Syetan akan terus berusaha melemahkan iman kita, sampai kita terjerumus kadalam kesesatan. Bagaimana caranya? dia akan terus dekatkan kita dengan perbuatan dosa, dia akan terus goda kita dengan berbagai kemaksiatan.

Karena Sahabat Nabi Abu Darda’ RA, mengatakan:

الإِيْمَانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ

iman itu bisa bertambah dan bisa juga berkurang

Yazidu bitto’ati” iman bertambah dengan ketaatan

“wayan qushu bil ma’siati”  dan berkurang dengan perbuatan maksiat.

Maka kita jaga kadar iman kita itu dengan ketaatan kepada Allah SWT.

Allah sayang sama kita, Allah tau kita ini manusia yang lemah, maka Allah jadikan bulan Ramadhan itu untuk kita mencas iman kita, untuk kita meningkatkan iman dengan berbagai ketaatan selama Ramadhan. Maka setelah keluar dari Ramadhan, harusnya iman kita itu sudah full, sudah terisi penuh. Dan iman yang sudah mantap itu harus bisa kita pertahankan, dengan tetap istiqomah dalam ketaatan beribadah kepada Allah SWT. Maka kuncinya adalah istiqomah.  Meskipun melakukannya tak semudah mengucapkan, namun kita harus berusaha, karena Nabi SAW bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang dilakukan terus menerus, kontinu, berkelanjutan walaupun itu sedikit”  (HR.Muslim no 1305)  

Yang dulu baca qur’an ketika Ramadhan, dibuka lagi qur’annya, kalau dulu 1 hari 1 juz, sekarang tak sanggup 1 juz, maka ½ juz, tak sanggup, 1 lembar, tak sanggup juga, 1 halaman. Tapi istiqomah setiap hari dibaca 1 halaman itu setiap hari.

Tak bisa full 5 waktu berjama’ah, mungkin siangnya sibuk bekerja, zuhur ashar tak bisa, maka usahakan magrib, isya’ & subuh berjamaah ke masjid, istiqomahkan setiap hari, sempatkanlah!  Siapa lagi yg akan memakmurkan masjid ini kalau bukan kita? Kalau bukan warganya, Masjid sudah dibangun luar biasa besar, luas. kalau tidak dimakmurkan dengan sholat berjamaah maka hanya akan mengundang murka Allah SWT.

Selanjutnya yang ketiga, bagaimana supaya kita selamat dari tipu daya syetan setelah Ramadhan, yaitu:

Dengan selalu berdo’a kepada Allah SWT, memohon perlindungan dari Allah ‘Azza Wa Jalla.

Dalam bulan Ramadhan memang do’a mustajab, mudah dikabulkan oleh Allah. Tapi setelah Ramadhan pun ada waktu-waktu yang mustajab untuk berdo’a. antara azan dan iqomah, di sepertiga akhir malam, satu titik di hari Jum’at. Maka manfaatkan waktu-waktu itu untuk berdo’a kepada Allah SWT. 

Minta kepada Allah apa yang kita inginkan. Minta kepada Allah agar kita selalu istiqomah. Karena sejatinya kita tidak akan mampu untuk istiqomah kecuali dengan bantuan Allah. Makanya dalam sholat itu kita ikrarkan, kita nyatakan itu.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

(Hanya kepadamu kami beribadah, dan hanya kepadamu kami minta pertolongan)

Karena sesungguhnya kita takkan mampu datang ke masjid ini kecuali Allah yang menggerakkan hati kita. Yang memberikan taufik dan hidayah kepada kita. Maka kita senantiasa terus selalu berdo’a kepada Allah,

Ya Muqollibal qulub, Tsabbit Qolbi ‘Ala dinika wa’ala tho’atika”

Perbanyak istighfar dan berzikir mengingat Allah, agar Allah senantiasa selalu melindungi dan menyelamatkan kita dari tipu daya syetan. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas dalam setiap amal soleh, dan bisa terus istiqomah dalam iman dan dalam ketaatan beribadah kepada Allah SWT, Amin ya Robbal alamin.

Link DOWNLOAD PDF

Link YOUTUBE


MAHA PENGAMPUNNYA ALLAH SWT

 

Oleh : Ustadz Azirwan Mustaqim, ST

Ada 3 hadits yang sangat populer tentang keutamaan bulan Ramadhan, hadits-hadits ini biasanya banyak disampaikan oleh para penceramah di bulan Ramadhan.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 “Siapa yang puasa Ramadhan, siapa yang mendirikan malam-malam Ramadhan dengan Qiyamul lail,  karena iman dan semata mengharap ridho Alloh, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

 مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannyai (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya (HR. Bukhari)

Kenapa semua ujungnya janji atas ampunan Allah? Karena kita manusia ini, memanglah banyak dosa kita, dan Allah itu sayang kepada kita hamba2Nya, Allah berikan ampunan untuk kita.

Ada sebuah kisah tentang betapa hebat dan cepatnya ampunan Allah bagi orang2 yang bertaubat.

Kisah ini diriwayatkan oleh imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Attawwabin. Imam Ibnu Qudamah adalah seorang ulama besar pada masanya, beliau pernah berguru langsung kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Beliau lahir tahun 541 H di Palestina dan wafat tahun 620 H di Damaskus Suriah. Kisah ini ada dalam kitab beliau berjudul Attawwabin (orang-orang yang bertaubat). Bagaimana kisahnya?

Pada zaman nabi Musa alaihissalam, pernah terjadi kemarau panjang, panas terik berkepanjangan, tanah jadi kering dan tandus, , tanaman tak sanggup hidup, binatang banyak yang mati, manusiapun seperti tak sanggup lagi menghadapi kemarau itu.

Maka datanglah beberapa utusan pemuka2 bani israil kepada Nabi Musa, “wahai Musa, berdo’alah kepada Tuhan-Mu agar diturunkan hujan kepada kami”. “baiklah, besok kalian kumpulkan semua orang, laki-laki dan perempuan, anak-anak bahkan hewan2 ternak berkumpul di lapangan untuk berdo’a supaya diturunkan hujan.

Esoknya mereka berkumpul di lapangan dengan jumlah sekitar 70 ribu orang. Kemudian Nabi Musa berdo’a:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Allah tolonglah kami, Turunkanlah kepada kami air hujan-Mu, curahkanlah rahmat-Mu kepada kami dan kasihanilah kami berkat anak-anak yang masih menyusu, hewan-hewan ternak yang sedang merumput, dan orang-orang tua yang sudah bungkuk”.

Namun langit bertambah kering, dan matahari bertambah panas, tidak ada tanda-tanda akan hujan. Maka Nabi Musa melanjutkan do’anya:

“Tuhanku jika kedudukanku di sisiMu telah usang, maka aku memohon kepada-Mu dengan berkat kedudukan Nabi yang ummi, Muhammad yang akan Engkau utus di akhir zaman”

Lalu Allah menyampaikan wahyu kepada Musa “kedudukanmu di sisi Ku tidak usang, sesungguhnya di sisiKu engkau mempunyai kedudukan. Akan tetapi di tengah-tengah kalian ada seorang hamba yang telah melakukan maksiat kepadKu selama 40 tahun, semua jenis maksiat sudah dilakukannya. Maka serulah olehmu semua orang agar dia keluar dari barisan kalian, karena gara-gara dialah Aku tidak menurunkan hujan kepadamu”.

Musa berkata “Tuhanku, aku adalah hamba yang lemah dan suaraku juga lemah, bagaimana seruanku bisa menjangkau mereka sementara jumlah mereka 70 ribu orang lebih.

Allah mewahyukan kepada Musa “Engkau hanya berseru, dan Akulah yang akan menyampaikannya”. Maka berserulah Musa dengan berkata, “Wahai hamba pendurhaka yang telah bermaksiat kepada Allah selama 40 tahun, keluarlah dari barisan kami, karena selama ada kamu disini Allah tidak akan menurunkan hujan”

Maka hamba pendurhaka itu menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak melihat seorangpun keluar, akhirnya taulah dia bahwa dirinyalah yang dimaksud. Lalu dia berkata dalam hati, “jika aku keluar maka terbongkarlah kedokku, orang2 akan tahu kalau akulah pelaku maksiat itu, tapi kalau aku tetap disini hujan tidak akan turun karena aku”

Maka galau lah dia, mau tetap di tempat takut, mau keluar malu. Tentu orang2 akan menyebut dia seorang yg pendosa yang menyebabkan doa Nabi tertolak. Lalu apa yg terjadi?

Meneteslah air matanya, basah pipinya, pada saat itu dia menyesal dan berjanji, apa janjinya? “ya Allah aku berjanji akan aku tinggalkan semua perbuatan maksiat itu, takkan pernah ku ulangi lagi, air matanya megalir deras, dia tutupkan kepalanya dengan bajunya supaya orang lain tak tahu, lalu dia menangis sejadi-jadinya.

Tak lama setelah itu langit yang tadinya cerah berobah jadi mendung gelap, gumpalan2 awan hitam menutup langit yang tadinya cerah, dan tak lama setelah itu hujan lebat turun. Maka heranlah semua orang, terlebih lagi Nabi Musa as.

“ya Alla pelaku maksiat belum kutemukan, do’a belum kuulangi, tapi hujan sudah turun”. Apa kata Allah, “wahai Muasa, aku senang, hamba Ku yang melakukan dosa dan maksiat selama 40 tahun itu sudah menyesal dan berjanji akan meninggalkan semua perbuatan dosanya dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Cukuplah bagi Ku taubatnya membuat Ku tutunkan hujan”.

“Ya Allah dimana dia? Siapa dia? Tunjukkan orangnya kepada ku, aku ingin berterima kasih kepadanya, aku ingin merangkul dan menjabat tangannya”.

Apa kata Allah, “wahai Musa cukup Aku saja yang tahu, engkau tak perlu tahu siapa dia”.

Begitulah Maha PengampunNya Allah SWT, bukan sekedar Allah ampuni, tapi Allah tutup aibnya pelaku dosa itu. Siapa dia? Ummat Nabi Musa, bani israil. Begitu banyak dosanya Allah ampuni. Lalu siapa kita? Kita ummat Nabi Muhammad . memang apa kelebihan kita? Kita adalah ummat pilihan, Nabi kita adalah nabi yg paling mulia, nabi terbaik, sayyidul anbiya wal mursalin.  Dan sekarang kita sedang berada di bulan terbaik, bulan paling mulia, sayyidussyuhur. Maka ampunan Allah tentu lebih luar biasa lagi untuk kita. Maka Ramadhan ini adalah momentum yang sangat luar biasa, kesempatan terbaik untuk bertaubat.

Yakinlah jama’ah, ketika kita serius mohon ampun kepada Allah SWT, Allah akan ampuni dosa kita yg kecil sampai dosa yang besar, dosa yang lama maupun yang baru, yang kita lakukan terang-terangan maupun yg dilakukan sembunyi2, yang masih kita ingat maupun yg sudah kita lupakan, semua itu akan Allah ampuni.

Allah tidak berat mengampuni kita, tapi kitalah yang merasa berat minta ampun kepadaNya. Allah tak mikir2 untuk mengampuni kita, tapi kitalah yang selalu mikir2 mau bertaubat.

Allah tidak tunda2 untuk mengampuni dosa kita, tapi kitalah yang selalu menunda-nunda untuk bertaubat, tunggu pensiunlah baru taubat, bulan depan lah baru taubat, tak jadi juga, besoklah taubat tak jadi2 juga. Akhirnya datang ajal, ketika sakaratul maut baru mau taubat, tentu sudah terlambat.

Ajal datang tidak menunggu kita taubat dulu. maka taubatlah sebelum ajal itu datang. Kalau momen Ramadhan ini tak juga membuatmu taubat, harus menunggu kapan lagi mau taubat? Kalau datangnya Ramadhan  tak juga membuatmu berhenti dari dosa dan maksiat, harus menunggu kapan lagi? Kalau Ramadhan tak juga membuatmu jadi baik, maka harus bagaimana lagi caranya?

 مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Siapa yang tidak baik di bulan ini, mustahil dia akan baik di bulan lain.

Maka Jangan sia-siakan kesempatan Ramadhan yang Allah berikan, kalau kita sungguh2 bertaubat kepada Allah apa janji Allah?

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ

Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya

عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ

Mudah-mudahan Tuhanmu menutupi dosa-dosamu  dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (at-Tahrim 8)

Maka Allah perintahkan kita:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan sura (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (Al-imran 133)

Dalam hadits riwayat imam Tirmizi dan Ibnu Majah Nabi bersabda:

وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ

Sesungguhnya Allah membebaskan orang-orang dari neraka, pada setiap malam di bulan Ramadhan. (HR. Ibnu Majah, Tirrmidzi)

 

Artinya, Allah ampuni semua dosa2nya.

Andai dari awal Ramadhan sampai hari yg ke 21 ini belum kita dapatkan ampunan Allah itu, maka masih ada tersisa 9 hari 9 malam lagi, untuk kita mendapatkannya, maksimalkanlah dengan beribadah sebanyak2nya. Mudah-mudahan kita dapat kemuliaan malam Lailatul Qadar dan dapat pula ampunan Allah SWT.

 Link DOWNLOAD PDF

 Link YouTube

BAYARLAH ZAKAT