Jumat, 21 Februari 2025

Khutbah Jum'at: MERAIH AMPUNAN DI BULAN RAMADHAN


Oleh : Ustadz Azirwan Mustaqim, ST 

Kaum muslimin jamaah Jumat Rahimakumulloh.

Sungguh tak ada nikmat yang paling besar dari ini, ketika kita masih diberi hidup, nafas masih berhembus, jantung masih berdetak, diberi pula badan yang sehat dan hati kita pula masih terketuk ketika mendengar suara adzan berkumandang. Kita tinggalkan segala aktifitas kita, segala pekerjaan kita, untuk menuju ke rumah Allah ini. Maka kita syukuri segala nikmat Allah ini dengan ucapan Alhamdulillahirobbil ‘alamin.

Sholawat dan Salam kepada Baginda Nabi, اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّد ,

Hari ini kita sampai pada hari bertemunya dua kemuliaan, kemuliaan sayyidul ayyaam, penghulu segala hari, hari jum’at dan kemuliaan sayyidusysyuhur, penghulu dari segala bulan, yaitu bulan Ramadhan. Betapa banyak orang yang ingin sampai pada hari yang mulia ini, tapi takdir berkata lain.

فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ 

 kalau ajal sampai tak dapat ditunda walau sesaat tak pula dapat dimajukan walau sesaat(QS. Al-A'raf ayat 34)

Ada yang dipanggil Allah 1 atau 2 bulan sebelum masuk Ramadhan, ada yang beberapa hari sebelum masuk Ramadhan, bahkan ada yang hanya tinggal hitungan jam mau memasuki Ramadhan, tapi ajalnya sudah sampai, sehingga tak dapat bertemu dengan Ramadhan tahun ini.

Tak sayangkah Alloh pada mereka? Kita khusnuzon, Alloh juga sayang pada mereka, karena mereka sudah cukup amalnya untuk bertemu dengan Alloh, Lalu bagaimana dengan kita? Alloh juga masih sayang pada kita, dosa kita masih terlalu banyak untuk berjumpa dengan Alloh, maka umur kita dipanjangkan Alloh supaya bisa berjumpa bulan Ramadhan ini, supaya bersih dari segala  dosa. Hadits Riwayat imam Thabrani:

أَتَاكُمْ رَمَضَانَ شَهْرُ بَرَكَةٍ يَغْشَاكُمُ الله فِيهِ 

فَيُنَزِّلُ الرَّحْمَةَ وَيَحُطُّ الخَطَايَا وَيَسْتَجِيْبُ فِيْهِ الدُّعَاءَ

               Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan keberkahan  Allah mengunjungi kalian pada bulan ini Dengan menurunkan Rahmat,  Menghapus Dosa-dosa Dan mengabul do’a-do’a

Maka bulan Ramadhan dengan segala keberkahan dan keutamannya, datang untuk menghapus dosa-dosa kita, siang malamnya. Siangnya:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 “Siapa yang puasa Ramadhan, siapa yang mendirikan malam-malam Ramadhan dengan Qiyamul lail,  karena iman dan semata mengharap ridho Alloh, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Malamnya:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Setiap waktunya adalah kesempatan untuk kita meraih ampunan Allah SWT.

Sehingga ada ancaman yang sangat besar dari Allah, bagi orang-orang yang tidak bisa mendapatkan ampunan ketika Ramadhan. Dalam Hadits Shahih Riwayat Baihaqi no 1471 Nabi bersabda:

قال إن جبريل عليه السلام عَرَضَ لي فقال:

Nabi bersabda: “Sesungguhnya malaikat Jibril Alaihi Salam, mendatangiku, lalu berkata

بُعْدٌ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَان فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، قُلتُ آمين

“Sungguh celaka dan terlalu orang yang berjumpa dengan Ramadhan tapi tidak mendapatkan ampunan Allah. Maka aku ucapkan amin.”

Siapakah orang yang berjumpa dengan Ramadhan tapi tidak mendapatkan ampunan Alloh ini? Maka ada 2 kelompok orang,

1.       Orang yang memang tidak ikut Puasa Ramadhan tanpa uzur

Memang dia sama sekali tak ikut puasa atau hanya puasa di awal, di tengah dan terakhir saja, atau di depan orang dia pura-pura puasa, tapi kalau tak ada orang dia makan dan minum. Yang lebih parah lagi, di depan orang pun dia santai saja makan, minum atau merokok, justru kadang malah bangga menunjukkan kalau dia tak puasa.

Yang anehnya kalau ditanya agamanya, dia jawab Islam. Masih mengaku islam. Padahal sudah jelas hukum puasa itu adalah “Fardhu ‘Ain”, wajib bagi setiap muslim. Salah satu dari rukun Islam,

  بُنِيَ الأِسْلاَم عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّ الله

وَاَنَّ مُحَمّدًا رَسُول الله ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ،

وَإِتَااِ الزَّكَاة ، وصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ البَيْتِ الحَرَامِ

Yang namanya rukun kalau tak dikerjakan maka tak sah, rukun sholat kalau ada yang tinggal tak sah sholatnya, rukun haji kalau tak lengkap batal hajinya. Maka rukun Islam kalau tak dikerjakan tak sah islamnya. Tapi memang biasanya orang yang tak puasa ini dia bisanya juga tak sholat.  Nabi bersabda:

مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Siapa yang tidak baik di bulan ini, mustahil dia akan baik di bulan lain.

Kalau di bulan ini saja dia tidak sholat, maka apalagi di luar Ramadhan, kalau di bulan ini saja dia tidak puasa, bagaimana mau puasa sunnat di bulan yang lain, kalau di bulan ini saja tak mau baca Alqura’n maka jangan harap lagi di bulan yang lain. Kalau di bulan ini saja tak juga mau ke masjid sholat berjamaah mustahil lagi di bulan lainnya.

Orang-orang seperti ini adalah manusia yang zolim pada dirinya sendiri, aniaya pada dirinya sendiri, karena dia sudah menjadikan dirinya sebagai santapan api neraka jahannam.

Padahal bulan Ramadhan datang menghampirinya, membawakan ampunan untuk setiap dosa-dosanya. Tapi hanya dibiarkan berlalu begitu saja, bahkan ia sangat benci dengan Ramadhan, ketika Ramadhan datang maka sempit dadanya, sempit hatinya.

Maka orang-orang yang tidak memuliakan Ramadhan, ketika Ramadhan itu berlalu tentu kemuliaan Ramadhan itu tidak berbekas pada dirinya, tidak membawa perubahan pada dirinya sehingga tidak mendapatkan ampunan Allah SWT.

Kaum muslimin jamaah Jum’at yang dimuliakan Alloh.

Ada 9 orang yang boleh tidak puasa: 1. Anak kecil belum baligh, 2. Wanita Haid,  3. Nifas, 4. Hamil dan 5. menyusui, 6. Orang yang sakit parah, 7. orang tua yang lemah, 8. musafir, dan  9.orang gila.

Tapi tetap diganti di hari yang lain, atau dengan membayar fidyah.

Maka kalau anda tidak termasuk salah satu dari 9 syarat uzur puasa, HARAM hukumnya meninggalkan puasa, takutlah kepada Alloh, Takutlah kepada Alloh. Takutlah kepada ancaman dan siksaan Alloh..

   كُلَّمَا نَضِجَت جُلُودُهُمsetiap kali kulit mereka hangus terbakar(,

 بَدَّلنَهُم جُلُودًا غَيرَهَا )kami ganti dengan kulit yg baru(

  لِيَذُوقُوا العَذَاب  )Supaya mereka merasakan sakitnya aza(.

Bagaimana azabnya? Ketika api neraka diletakkan dibawah telapak kakinya.

يَغلِي مِنهُمَا دِمَا غُهُ  (Mendidih otak di kepalanya) 

dan itu hanyalah azab yang paling ringan dari neraka.

Maka mari kita tanamkan tekad yang kuat, niat yang Ikhlas. Kalau kiranya Ramadhan tahun lalu masih ada puasa yang lalai, tertinggal, maka untuk tahun ini jangan sampai lagi ada yang tinggal.

Karena satu hari puasa yang tinggal itu akan menjadi hutang seumur hidup yang harus dibayar dan wajib diganti. Bahkan sampai matipun hutang puasa yang tinggal itu tetap harus dilunasi.

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّه 

“Siapa yang mati masih punya hutang puasa maka ahli waris nya wajib melaksanakan puasa untuknya” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Maka meninggalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tanpa ada uzur bukanlah perkara yang remeh, bukannya main-main dan sepele. Karena akan menjadi hutang seumur hidup yang wajib diganti.

Lalu kelompok kedua, yang  berjumpa Ramadhan tapi tidak mendapat ampunan Alloh adalah: 


2.       Orang mengerjakan puasa tapi puasanya sia-sia tak diterima Alloh

hadits riwayat Imam Ahmad, Rasululloh mengingatkan kita:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

 “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.”

Siapakah mereka?

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

 (Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya maka Allah tidak butuh, Allah tak berikan balasan dari rasa lapar dan haus yang dia tahan). (HR. Bukhari no. 1903)

Orang yang puasa tapi masih berkata dusta, puasa tapi masih suka menceritakan orang, puasa tapi masih suka mengadu domba, puasa tapi sumpah serapah, caci maki tak berhenti, puasa tapi tidak sholat, puasa tapi masih tetap bermaksiat. Maka inilah orang yang puasa tapi tak diterima Alloh, orang yang berjumpa dengan Ramadhan tapi tidak mendapatkan ampunan Alloh.

 

 Kaum muslimin jamaah jumat yang dimuliakan Alloh..

Mari kita perbanyak mohon ampun dan bertobat kepada Alloh!!

وَالَّذِيْنَ عَمِلُوا السَّيِّاٰتِ ثُمَّ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِهَا وَاٰمَنُوْٓا اِنَّ رَبَّكَ مِنْۢ بَعْدِهَا لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan orang-orang yang telah mengerjakan keburukan kemudian  mereka bertaubat dan beriman niscaya setelah itu Tuhanmu sungguh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. – (Q.S Al-A’raf: 153)

Ramadhan adalah saat terbaik untuk bertaubat. Jadikan momentum Ramadhan tahun ini sebagai titik balik, sebagai batu loncatan utk meraih ampunan Alloh, untuk menjadi hamba yang bertaqwa. Berobah menjadi pribadi yang lebih baik.

Niatkan dalam hati dengan tekad yang kuat. Ramadhan tahun ini harus lebih baik dari Ramadhan tahun lalu, lebih baik ibadahnya, lebih berkualitas puasanya, lebih rajin sholat jama’ahnya, lebih banyak sholat tarawihnya, lebih banyak sholat-sholat sunnatnya, lebih banyak baca qur’annya, lebih banyak shodaqohnya dan lebih banyak muhasabahnya.

Mudah-mudahan kita semua termasuk orang yang berjumpa dengan Ramadhan dan mendapatkan ampunan Alloh swt. Amiin.....

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ

إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ




Selasa, 18 Februari 2025

Khutbah Jum'at : 5 Tanda Orang Beriman

Kaum muslimin jamaah Jumat Rahimakumulloh…

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (AImran 102)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. (Al-Ahzab : 70)

 

Ayat ini adalah dua dari banyak ayat dalam Alqur’an yang Allah tujukan khusus untuk orang beriman, dengan diawali kalimat  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا

Pernahkah kita berpikir apakah kita ini termasuk kedalam golongan orang beriman itu?

Mungkin selama ini kebanyakan kita merasa sudah menjadi orang yang beriman atau menganggap diri kita sudah beriman. Namun benarkah kita sudah termasuk orang yang beriman? Atau jangan-jangan kita hanya mengaku-ngaku sebagai orang yang beriman. 

Maka dalam Alqur’an surat Al-Anfal ayat 2 & 3, Allah SWT menjelaskan tentang tanda orang beriman itu:

Yang pertama kata Allah:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ

“Orang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya”. karena takutnya kepada Allah.

Ketika diingatkankan “ini adalah hal yang dilarang Allah pak, tak boleh kita lakukan” ini yang Allah perintahkan, itu yang Allah larang”.  Maka ketika dia mendengar nama Allah disebutkan hatinya bergetar takut.

Seketika berhenti dia dari perbuatan dosa itu, karena dia sadar, dia tahu kalau Allah berkehendak, Allah hanya mengatakan Kun maka terjadilah. Allah lah yang menerbitkan matahari di timur dan menenggelamkannya di barat. Allah yang menciptakan alam semesta dan isinya kemudian mengaturnya. Tapi seringkali kita diingatkan Allah, Allah, bukannya hati kita bergetar tapi malah meremehkan. Sama sekali tidak menghiraukannya.

Maka tanda orang beriman yang pertama adalah, ketika disebut nama Allah hatinya bergetar karena takutnya.

Selanjutnya Yang kedua,

وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا

“Jika dibacakan Ayat-ayat Allah, bertambah kuat imannya”.

Selama ini setelah pulang jumatan sudahkah iman kita bertambah? Apakah kita jadi tambah takut dan cemas? Apakah kita jadi meninggalkan yang haram dan mengamalkan perintah Allah? Ataukah kita tetap sama saja, 10 tahun, 20 tahun, bahkan 40 tahun setiap Jumat mendengarkan khutbah. Berapa banyak ayat-ayat Allah yang dibacakan khotib, berapa banyak peringatan-peringatan Allah yang kita dengar, tapi tidak satupun yang menambah keimanan kepada Allah. Tapi memang kata Allah ada sebagian orang itu:

لَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ

Mereka punya telinga, kalau diperiksakan ke dokter normal telinganya, tapi tak bermanfaat untuknya karena tak bisa menambah imannya ketika ayat-ayat Allah diperdengarkan di telinganya.

Padahal Allah turunkan Alqur’an itu bukan untuk dipajang di dinding hiasan kaligrafi, Allah turunkan Alqur’an bukan untuk hiasan di lemari kaca yang diletakkan di ruang tamu pertanda kita muslim. Tapi Allah turunkan Alqur’an itu untuk dibaca, untuk didengar dan di amalkan.

Maka ciri orang beriman yang kedua adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah, disampaikan peringatan-peringatan Allah, perintah-perintah dan larangan Allah, bertambah keimanannya.

Selanjutnya Yang Ketiga,

وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

Orang beriman itu hanya kepada Allah lah mereka bertawakkal.

Hanya kepada Allah lah dia bergantung.

Dia tidak bergantung kepada bisnisnya, tidak bergantung kepada bosnya, tidak bergantung pada simpanan uangnya, tidak bergantung kepada jabatannya, tidak bergantung kepada sanak familinya.

Karena dia tau semuanya hanyalah fana, semu. Kalau Allah mau ambil seketika bisa habis semuanya. Maka dia hanya bergantung dan bertawakkal kepada Allah Azza Wajalla zat yang maha kekal.

Tapi Hari ini banyak kita lihat orang-orang yang semata-mata menggantungkan dirinya, menggantungkan nasibnya kepada makhluk bukan kepada Allah, dia bergantung kepada usahanya, bergantung kepada tempat kerjanya, maka ketika ramai orang di PHK, banyak yang stres. Ketika usaha sepi harus tutup. Banyak yang depresi. Karena tempat bergantungnya patah hilang.

Maka orang yang beriman tak akan mudah putus asa hilang harapannya. Karena dia bertawakkal, bergantung hanya kepada Allah SWT.

 

Yang keempat,

الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ

Mereka adalah orang-orang yang mendirikan sholat.

Bukan hanya sholat wajibnya tapi juga sholat sunnat. Bukan cuma ketika hari Jumat datang ke masjidnya, tapi juga 5 waktunya.

Namun sebagian kita ketika Allah panggil “Hayya ‘ala sholah”

Masih sibuk dengan pekerjaannya, masih sibuk dengan tokonya. Dipanggil Allah untuk datang ke rumahnya, tapi pura-pura tak mendengar. Masih terus dengan kesibukannya.

Terkadang kita ini memang aneh, kita lebih takut kepada manusia dari pada kepada Allah. Kita lebih takut kpd bos, lebih takut kepada atasan, dari pada takut kepada Allah. kalau atasan yang kasih perintah langsung kita jawab siap bos, siap laksankan. Tapi kalau Allah, nantilah, tunggulah, tanggung.

Padahal siapa yang memberimu rezki? Siapa yang memberimu hidup? Siapa yang memberimu sehat? Bukan hanya dirimu, anakmu, istrimu, keluargamu, semuanya Allah yang memberikan.

Sebagian orang banyak berpikiran nantilah kalau agak lapang baru ke masjid, nantilah kalau sudah tua baru ke masjid, kalau sudah pensiun baru ke masjid, kalau sudah sakit-sakitan baru mau ke masjid.

Saudaraku, ke masjid itu sampai tua, bukan sudah tua baru ke masjid, ke masjid itu sampai mati, bukan sudah mati baru sampai ke masjid. Maka orang beriman itu

الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ  Mereka yang mendirikan sholat, dengan berjamaah.

 Yang kelima,

وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ

Mereka berinfak dengan rezki yang telah Allah berikan

Ketahuilah ketika kita keluarkan uang itu, kita masukkan ke kotak infaq, itu adalah dari Allah. Bukan semata dari hasil kerja kita, bukan dari keringat kita, bukan dari capek dan lelah kita.

Karena betapa banyak orang yang lebih capek dari kita lebih berkeringat dari kita, tapi rezkinya lebih sedikit dari kita.

Kalau rezki itu murni dari hasil kerja kita, tergantung keringat kita, maka kuli bangunanlah yang lebih cepat kaya, pemulung yang mengumpulkan sampah yang akan lebih banyak rezkinya. Mereka lebih berkeringat, lebih capek dari kita.

Tapi tidak. Karena Allah lah yang memberikan rezki, rezki itu karena kasih sayang Allah.

Lalu kenapa ada yang kaya ada yang miskin?

وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Allah berikan rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.

 

Yang beriman Allah kasih rezki, yang tak beriman juga Allah kasih, yang taat Allah beri rezki, yang maksiat juga Allah beri. Karena dunia ini tak ada artinya bagi Allah, tak lebih dari sebelah sayap nyamuk.

MAKA MENGEJAR REZKI JANGAN MENGEJAR JUMLAHNYA, TAPI BAROKAHNYA

Dan orang yang beriman itu ketika dia diberi rezki oleh Allah maka ia infakkan. Yang wajib dalam bentuk zakat, yang sunnat dalam bentuk sodaqoh.

Ingatlah pesan Nabi SAW:

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي

Anak cucu adam berkata Hartaku, hartaku

Toko ini hartaku, kaplingan yg disana hartaku, tanah itu hartaku, rekening bank ini punyaku. 

     وَإِنَّمَا مَالُكَ

Kau katakan itu hartamu, ini hartamu, namun taukah engkau yang mana yang sesungguhnya hartamu itu? Yang sebenarnya milikmu itu kata Nabi:

مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ Apa yang kau makan hingga kau habiskan

أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ Apa yang kau pakai hingga hancur

أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ Dan Apa yang kau sedekahkan

Itulah hakikat hartamu  yang sebenarnya menjadi milikmu. lalu yang kau simpan, yang kau tumpuk, itu semua bukanlah milikmu, hanya akan kau tinggalkan, dan akan menjadi milik orang lain. Tak satupun yang akan kau bawa.

 

Itulah 5 tanda orang beriman yang Allah sebutkan dalam  surat Al-Anfal ayat 2-3. Mudah-mudahan tanda-tanda ini ada pada diri kita, sehingga kita termasuk orang-orang beriman yg sebenarnya.


Link Download PDF : 5 Tanda Orang Beriman


Link Video Youtube

Khutbah Jum'at : 3 KELOMPOK MANUSIA SETELAH RAMADHAN


 

Kaum muslimin jamaah Jum’at Rahimakumulloh.

Bersyukur kepada Alloh SWT dengan mengucapkan Alhamdulillahirabbil 'alamin

Bersholawat kepada Baginda Nabi dengan ucapan اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Marilah senantiasa kita tingkatkan iman dan Taqwa kepada Alloh SWT, dengan mengerjakan semua perintahNya dan menjahui semua laranganNya.

Ramadhan telah berlalu, hari ini Jum’at, menjadi Jum’at pertama di bulan Syawwal. Maka setelah Ramadhan ini berlalu, ketika sudah masuk bulan Syawwal, manusia akan terbagi menjadi 3 kelompok:

1.       Kelompok Pertama

Orang yang setelah Ramadhan berobah menjadi lebih baik dari pada sebelum Ramadhan. lebih baik ahklaknya, lebih taat ibadahnya, lebih rajin ke masjidnya, lebih banyak amal solehnya, dan lebih takut berbuat dosanya.

Mudah-mudahan kita semua termasuk kedalam kelompok yang pertama ini. Karena Inilah ciri-ciri orang yang diterima puasanya oleh Alloh. salah satu ciri orang yang mendapatkan kemuliaan lailatul qodar.

Yaitu tetap istiqomah menjaga ketaqwaan dan ketaatannya setelah selesai bulan Ramadhan.

Dulu ketika Ramadhan kita berpuasa, maka masuk bulan Syawwal, lanjutkan dengan puasa 6 hari, yang keutamaannya seperti kata Nabi:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa  setahun penuh.”  (HR. Muslim)

Dulu selama Ramadhan rajin sholat berjamaah ke masjid, maka setelah Ramadhan tetap rajin sholat ke masjid.

Dulu ketika Ramadhan rajin tarawih dan witirnya maka setelah Ramadhan kita lanjutkan dengan tahajud, sholat-sholat sunnat lainnya tetap kita jaga. Kalau ketika Ramadhan rajin bersedekah, maka setelah Ramadhan harus tetap banyak sedekahnya. Ketika Ramadhan rajin baca qur’an maka setelah Ramadhan terus pertahankan.

Kalau ketika Ramadhan takut membicarakan aib orang, takut berbuat dosa, takut berbuat maksiatm maka setelah Ramadhan harus lebih takut berbuat dosa dan tetap menjauhi maksiat.

Kalau semua ini bisa kita lakukan maka insyaAlloh kita termasuk orang-orang yang berhasil mencapai tujuan dari ibadah puasa yaitu membentuk pribadi yang bertaqwa.

 

2.       Kelompok kedua

Orang-orang yang sebelum Ramadhan suka berbuat dosa, lalai dalam beribadah, lebih banyak melakukan perbuatan sia-sia. Tapi ketika datang bulan Ramadhan mereka berhenti dari perbuatan dosa, menjauhi perbuatan maksiat, ikut berpuasa, jadi rajin ke masjidnya, banyak baca qur’annya.

Namun sayang setelah Ramadhan berlalu tak bisa Istiqomah dengan ketaatannya, tak bisa menjaga ketaqwaannya, sehingga ia kembali seperti semula, kembali lalai, kembali malas beribadah, kembali melakukan dosa dan kemaksiatan.

Ini adalah kelompok orang-orang yang ketaatannya hanya musiman saja, padahal bulan Ramadhan bukanlah sekedar bulan untuk menumpuk amal, tapi Ramadhan adalah bulan melatih diri untuk beramal. Melatih diri untuk takut kepada Alloh. Takut makan dan minum meskipun makanan dan minuman itu halal. Takut berhubungan suami istri meskipun istri sudah dinikahi dengan akad yang halal. Takut melihat yang haram, takut menceritakan aib orang, takut hati berprasangka buruk kepada orang lain. 

Maka setelah satu bulan lamanya ditanamkan rasa takut kepada Allah itu. Harusnya rasa takut itu juga bisa kita bawa keluar dari Ramadhan masuk ke bulan Syawwal ini. Kita bawa dan kita jaga sampai kita mati.

Jangan sampai ketika Ramadhan selesai, selesai pula ketaatan kita. Jangan sampai  dengan masuknya bulan Syawwal kembali pula kepada kemaksiatan dan kemungkaran. Kembali melakukan dosa dan kejahatan. Berarti gagal pendidikan Ramadhan yang telah kita tempuh satu bulan lamanya. Percuma semua amal ibadah yang telah kita lakukan kalau ternyata tidak membawa perubahan pada diri kita.

Bulan Ramadhan memang musimnya kebaikan, memang waktunya memperbanyak amal ibadah. Tapi bukan berarti kita beribadah, kita taatnya hanya disaat bulan Ramadhan saja.

Ketika Ramadhan masjid-masjid ramai sholat berjama’ah. Namun ketika masuk di bulan Syawwal, setelah merayakan hari kemenangan, bergembira, bersuka cita, lalu apa yg terjadi, masjid-masjid kembali sepi, yang terlihat hadir sholat berjama’ah orangnya  itu-itu saja 2-4 orang. Tak ada bertambah jama’ahnya, bahkan yang paling menyedihkan justru semakin berkurang, semakin hilang jama’ahnya.

Yang dulu rajin baca qur’an ketika Ramadhan bahkan sampai khatam sekali dua kali, maka mulai sejak hari Raya idul fitri Alqur’annya kembaili masuk dalam lemari tersimpan rapi tak pernah dibuka lagi

Maka yang paling penting agar kita tidak termasuk kelompok yang kedua ini, agar kita tidak termasuk kelompok orang-orang yang merugi ini, maka kita selalu ISTIQOMAH menjaga ketaqwaan dan ketaatan kepada Alloh SWT. Karena Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadhan, Dia juga Tuhan yang kita sembah di luar Ramadhan.

 

3.       Kelompok ketiga

Orang-orang yang sebelum Ramadhan, Ketika Ramadhan dan setelah Ramadhan mereka sama saja. Tetap lalai, tetap berbuat dosa, tetap sombong dengan kemungkarannya. Tetap larut dalam kemaksiatannya. Padahal bulan Ramadhan adalah musimnya kebaikan, kesempatan terbaik untuk bertaubat dan memperbanyak amal soleh. Tapi ia biarkan berlalu begitu saja.

Namun meskipun begitu, Alloh tetap masih sayang juga kepada hambaNya

Dalam surat Fathir ayat 45 Alloh SWT menegaskan :

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوْا مَا تَرَكَ عَلٰى ظَهْرِهَا مِنْ دَاۤبَّةٍ

“Sekiranya Allah menghukum manusia karena dosa yang telah mereka lakukan, niscaya tidak akan tersisa satupun yang hidup di bumi ini”

Seandainya Alloh mau, dengan sangat mudah seketika bisa Alloh timpakan azab kepada orang-orang yang ingkar itu. Dalam sekedip mata bisa Alloh hancurkan orang-orang yang sombong itu. Dalam sedetik saja bisa Alloh matikan semua para pelaku dosa dan maksiat itu. Namun sifat Rahman dan Rahim Nya Alloh lebih dulu tercurah untuk hambanya.

Alloh tangguhkan hukumanNya untuk orang-orang yang berbuat dosa itu, sengaja Alloh panjangkan usianya, Alloh ulur waktunya, Alloh pertemukan dia dengan bulan Ramadhan, Alloh sampaikan umurnya di hari raya idul Fitri, dan Alloh masih memberinya nikmat hidup sampai di hari yang mulia hari Jum’at,  untuk apa?

Alloh beri mereka kesempatan untuk bertaubat, dosa-dosanya masih begitu banyak dan Alloh itu sayang pada hambanya, Alloh ingin ketika hamba itu menghadapNya dalam keadaan bersih dari segala dosa. Tapi kebanyakan hamba itulah yang tak sayang pada dirinya sendiri, yang suka menjerumuskan dirinya ke dalam neraka jahannam.

Maka ketika sudah masuk bulan Syawwal ini kita nilai diri masing-masing. Kira-kira termasuk kelompok yang manakah kita?? Apakah termasuk Kelompok yang pertama, yaitu orang yang beruntung, atau kelompok kedua orang yang merugi, ataukah kelompok ketiga orang yang celaka.

Merenung sejenak! Berapa lama sudah kita hidup di dunia ini?

Berapa kali sudah kita berjumpa dengan bulan Ramadhan? Apakah Ramadhan yang setiap tahunnya kita temui, kita jalani dan kita lewati membuat diri kita jadi lebih baik? jadi lebih soleh? Jadi lebih takut kepada Alloh? Atau justru sama saja dari tahun ke tahun, dari Ramadhan yang satu ke Ramadhan yang lainnya. Sama saja kualitas iman kita, sama saja kualitas ibadah kita. Atau bahkan jangan-jangan semakin lebih buruk dari tahun ke tahunnya.

Kalau memang sudah ada perubahan lebih baik, maka Alhamdulillah, berusahalah istiqomah. Tapi kalau masih sama saja atau bahkan lebih buruk, maka segeralah sadar, perbaiki diri dan bertaubat kepada Alloh sebelum terlambat, selagi kesempatan itu masih ada.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ

 وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Link Download PDF : 3 Kelompok Manusia Setelah Ramadhan

Link Video Youtube

Senin, 17 Februari 2025

KHUTBAH JUM'AT : AMAL TERBAIK DI BULAN SYA’BAN

Oleh: Ustadz Azirwan Mustaqim, ST

Kaum muslimin jamaah Jumat Rahimakumulloh…

Tak terasa hari ini kita sudah memasuki bulan Sya’ban, Alloh telah menyampaikan umur kita ke bulan ini, lalu apakah amal yang paling baik di bulan Sya’ban ini?, maka paling tidak ada 3:

1.  Memperbanyak puasa sunnah

Dalam hadits riwayat Imam An-Nasa'i sahabat Nabi Usamah bin Zaid Radiyallahuanhuma, menjumpai Rasulullah dan bertanya, Ya Rasululloh”

لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ

(aku tidak pernah melihat engkau berpuasa lebih banyak dalam satu bulan sebagaimana di bulan Sya’ban) “diantara 11 bulan selain Ramadhan, aku tak pernah melihat engkau berpuasa lebih banyak selain di bulan Sya’ban”.

 

“Apakah alasannya?” Maka Nabi menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ

(itulah bulan yg banyak dilalaikan orang, terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan)

Orang mengagungkan bulan Rajab karena bulan Rajab salah satu dari bulan haram, bulan mulia. Di dalamnya terdapat satu peristiwa besar yaitu isra’ mi’rajnya Nabi . Sedangkan Ramadhan, merupakan penghulu dari semua bulan. Bulan diturunkannya Al-qur’an, bulan penuh rahmat dan ampunan, bulan yang di dalamnya ada Lailatul Qodar

Tapi diantara 2 bulan mulia itu ada satu bulan yang banyak orang lalai dan menyepelekannya, maka Nabi mengisi bulan itu dengan penuh ibadah, sehingga bulan itupun menjadi mulia.

Alasan kedua mengapa Nabi banyak berpuasa di bulan Sya’ban yaitu:

وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

(Pada bulan itu amal selama setahun diangkat kepada Rab semesta alam).

 

Catatan amal kita selama setahun itu dibawa oleh malaikat. Mulai dari Ramadhan tahun lalu sampai bulan Sya’ban ini, kata Nabi:

تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ

(Amal diangkat pada bulan Sya’ban)

فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

(Aku suka, aku senang ketika amalku diangkat, diperlihatkan kepada Alloh, Aku sedang puasa)

Maka amalan yang utama di bulan Sya’ban yang dicontohkan Nabi adalah memperbanyak puasa sunnah.

 2.       Mengganti Puasa yang tertinggal di masa lalu

Bagi yang tidak ada hutang puasanya, maka kerjakan puasa sunnat. Tapi bagi yang punya hutang puasa yang belum diganti sampai hari ini, apakah dulu tak puasa itu karena ada uzur sakit atau musafir, atau karena di masa lalu dulu lalai dengan perintah Alloh, sengaja meninggalkan puasa Ramadhan. Maka firman Allah:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا  (siapa yang dulu sakit)

 أَوْ عَلَى سَفَرٍ      (atau musafir)

Belum diganti sampai hari ini, jangan sangka kau akan bebas !

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ  (maka wajib menggantinya di hari yang lain)

Maka kalau yang sakit dan musafir saja diperintahkan wajib menggantinya, apalagi bagi orang-orang yang dulu dengan sadar dan sengaja tidak puasa Ramadhan, maka tak ada tawar menawar. Sepakat jumhur ulama semuanya wajib diganti. Akan menjadi hutang seumur hidup yang harus dilunasi.

Bagaimana kalau dia mati sebelum puasanya diganti? Apakah hutangnya akan lunas begitu saja? Maka kata Nabi:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّه

 Siapa yg mati masih punya hutang puasa maka ahli warisnya wajib melaksanakan puasa untuknya

Bayangkan, sampai matipun hutang puasa itu tak bisa lunas begitu saja.

Dan ahli waris belum tentu bisa diharapkan. Iya kalau mereka mau, iya kalau mereka tahu berapa banyaknya, apa lagi kalau yang kita tinggalkan itu ahli waris yang tak beriman dan tak berilmu, maka kemalangan yang besar bagi orang yang mati membawa hutang kepada Alloh SWT.

Oleh karena itu di bulan Sya’ban inilah saat terbaik untuk kita mengqodho puasa-puasa yang tertinggal itu. Kita ingatkan pula istri, anak, orang tua, keluarga kita. Tanyakan apakah masih ada hutang puasanya?

Kalau masih ada maka ganti sekarang di bulan Sya’ban ini, Karena orang yang melaksanakan puasa dengan niat qodho di bulan Sya’ban, otomatis juga akan tetap mendapatkan pahala puasa sunnat bulan Sya’ban.

3. Dalam Bulan Sya’ban terdapat satu malam yang punya keutamaan khusus

Dalam bulan ini ada satu malam yang dipilihkan Alloh, dikhususkan oleh Alloh. Itulah dia malam Nisfu Sya’ban, malam pertengahan di bulan Sya’ban. Yaitu hari ke 14, malam ke 15. nanti lihat kalender di rumah, tandai tanggalnya.

Hadits Nabi disebutkan dalam Musnad Ahmad, al-Mu’jam al-Kabir karya Imam Ath-Thabrani dan Musnad al-Bazzar.

يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

“Allah SWT memperhatikan semua makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban”

Apakah Alloh tidak memperhatikan makhluknya di malam yang lain?

 وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ    Dia maha mendengar maha melihat”

Semua bumi yang basah semua bumi yang kering Alloh tahu, tidak ada satupun daun yang jatuh kecuali Alloh tahu. Lalu apa makna Alloh memperhatikan makhluknya di malam itu?

 فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ

(Alloh mengampuni seluruh makhlukNya)

Tidak ada amalan khusus yang disebutkan Nabi malam itu. Maka pas tanggal 14 nanti setelah sholat isya tidur cepat agar bisa bangun sekitar jam 2. Kerjakan sholat-sholat sunat. Mulai sholat sunnat wudhu’, kemudian sholat sunnat taubat, setelah itu sholat sunat hajat. Apapun hajat-hajat kita yang baik sampaikan kepada Allah. Kemudian sholat tahajjud 8 raka’at, witir 3 Raka’at, setelah itu baca Yasin, berzikir, bersholawat, istighfar. Mohon ampun kepada Alloh atas salah silaf dan dosa di masa lalu. Karena Alloh bukakan pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya pada malam itu.

Tapi ternyata tidak semua orang mendapatkan ampunan, karena di akhir hadits nabi katakan:

إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ 

Ada 2 orang yang tidak mendapat ampunan di malam nisfu sya’ban, yaitu Musyrik, orang yang mempersekutukan Alloh. Yang masih meminta kepada setan, yang masih berkawan dengan jin, yang masih minta tolong pada dukun. Yang masih percaya jimat-jimat, maka buanglah itu semua, bersihkan akidah. Karena Alloh tidak memberikan ampunan kepada orang-orang yang mempersekutukan-Nya.

Satu lagi yang tidak diampunkan Alloh adalah مُشَاحِنٍ orang yang bermusuhan, yang belum berdamai dengan saudaranya, belum berdamai dengan tetangga, kawan kerabat dan keluarga.

Maka mintakan ampun kepada Alloh, bertaubat kepada Alloh atas semua dosa-dosa. Tapi yang terkait dengan sesama manusia tak bisa selesai hanya dengan istighfar tapi harus dengan minta maaf.

Maka amal selanjutnya di bulan ini yaitu:

 4.       MemPerbaiki Hubungan dengan sesama manusia

Sambung lagi silaturahim yang selama ini terputus. Karena Nabi Bersabda:

لاَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ عَلَى قَوْمٍ فِيْهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Rahmat Allah tidak akan turun kepada kaum yang memutus silaturahim”. (HR. Muslim)

Tak bermakna rukuk dan sujud kita itu, kalau kita tak baik dengan tetangga. Tak ada artinya puasa yang banyak, kalau dengan kawan putus hubungan.

Tak ada artinya haji dan umroh berkali-kali kalau sesama saudara tak bertegur sapa.

Maka di momen bulan Sya’ban ini, di hari yang mulia hari Jum’at ini kita merenung sejenak, ingat lagi orang-orang yang pernah tersakiti oleh kita, yang pernah terluka hatinya karena lidah kita, yang pernah terzolimi oleh tangan kita, yang pernah susah hidupnya gara-gara perbuatan kita.

Maka jumpai dia  dan mintakan maafnya.

Rendahkan hati untuk meminta maaf, kesampingkan dulu ego yang merasa diri selalu benar, “Bukan aku yang salah tapi dia yang salah”.

Singkirkan dulu itu semua, yang terpenting perbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Terhadap orang-orang yang punya salah kepada kita. Lapangkan dada utk memberinya maaf, sebelum dia minta maaf lebih dulu kita maafkan.

Berat memang, tapi harus kita paksakan hati ini, harus kita latih untuk bisa ikhlas, baik meminta maaf, maupun memberi maaf kepada orang lain.

Mudah-mudahan Allah panjangkan umur kita, bisa berjumpa dengan malam nisfu Sya’ban, dan kita termasuk orang yang akan mendapatkan ampunan Allah dimalam itu.

Dan selalu pula kita berdo’a kepada Allah agar biasa berjumpa dengan bulan Suci Ramadhan tahun ini`. 


BAYARLAH ZAKAT