Oleh : Azirwan Mustaqim, ST
Hadirin
Jama’ah Jum’at yang Dimuliakan Allah swt....
Dalam
kitab Arrisalah Alqusyairiyah ditulis oleh imam Abul Qasim Abdul Karim Hawazin
AlQusyairi. Dikisahkan bahwa ada seorang
yg ahli ibadah, soleh, banyak sholatnya, banyak puasanya, banyak sedekahnya,
khatam quran berkali-kali, tapi ternyata diakhirat nanti dia dihisabnya lama.
Padahal dia ahli ibadah tak pernah berbuat dosa dan maksiat. Lalu kenapa
hisabnya lama? Ternyata hanya karena satu tangkai ranting kayu yg pernah dia
ambil. Ketika dia pulang dari acara kenduri, tersangkut daging yg dia makan di
giginya, tak sabar dia menunggu sampai rumah, diambilnya satu ranting yg ada
dalam pagar orang tanpa seizin orang yg punya. Ternyata gara2 itulah dia
dihisab lama di padang mahsyar nanti. Padahal orangnya soleh ahli ibadah.
Maka kalau sekecil ranting
itupun kita akan dituntut, bagaimana dengan sebatang pohon, bagaimana dengan
hutan belantara, bagaimana dengan sepetak tanah? Maka tak akan ada yg lepas
dari semua itu.
Padahal
sholat kita belum tentu se khusyu’ dia, puasa kita biasa2 saja, sedekah kita
tidaklah seberapa, zikir pula hanya sekedarnya. Tapi dosa2 kita kepada manusia
sudah pasti lebih banyak dari setangkai ranting yg dia ambil. Siapkah kita
nanti dituntut di hadapan Allah?
Tapi kan
kita bisa bertaubat..? kalau dosa kepada Allah, ya Allah maha Ghafur (Maha
Pengampun), Allah Maha Rahman (Penyayang), Allah Maha Penerima Taubat.
مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ
الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ
Tidak
ada seorang hamba pun yang melakukan dosa, lalu dia bersuci dengan baik
selanjutnya berdiri lalu melakukan shalat dua raka’at, kemudian memohon ampun
kepada Allâh, kecuali Allâh pasti akan mengampuninya. (HR. Abu Daud)
Sebanyak
apapun dosa kita kepada Allah akan Allah ampunkan kalau betul2 bertaubat.
Tapi
kalau dosa kepada manusia, menangis di depan pintu Ka’bah takkan dapat
menghapuskannya. Karena dosa kepada manusia urusannya dengan manusia. Hanya bisa
dihapuskan dengan minta maaf. Kalau menyangkut hak orang yg kita ambil maka
harus dikembalikan atau harus dapat izinnya..
Satu
kisah yang sudah mahsyur disampaikan oleh para ulama, tentang seorang raja yang
tiba-tiba tangannya bengkak bernanah, dipanggillah tabib untuk mengobati tapi
tetap tak sembuh juga, bermacam cara obat sudah dicoba tapi tetap tak sembuh
juga, justru bertambah sakitnya, bahkan sampai harus dipotong jari2nya. Sampai Akhirnya
ada seorang hamba Allah, orang yang soleh yg diberikan Allah ilham, dia lalu
berkata kepada sang raja.
“Mungkin
tuan raja pernah menganiaya orang”.
“Saya
tidak pernah menganiaya orang” jawab sang raja.
“Cobalah renung2kan, ingat2
lagi”.
Akhirnya raja berpikir dan
merenung sejenak. Rupanya beberapa hari yang lalu ketika dia sedang duduk2 di
depan istana, dia melihat ada seorang laki-laki lewat pulang dari memancing
dengan membawa seekor ikan. Lalu terlintas dalam hatinya ingin mengambil ikan
yg dibawa orang itu, padahal sebagai raja dia bisa dapatkan ikan yg lebih besar
dari itu. Tapi karena merasa punya kuasa terhadap rakyatnya, dia perintahkan
pengawalnya untuk merampas ikan itu. Lalu ikan dimasak dan dimakan, dan ketika
makan itu ternyata jarinya tertusuk tulang ikan. Awalnya biasa2 saja, tapi
setelah beberapa hari tangannya mulai membengkak bernanah dan membusuk.
Kata
sang raja, “Padahal itu hanyalah seekor ikan”.
“Mungkin
menurut raja ikan itu hal yg sepele remeh temeh tak berarti, Tapi bisa jadi menurut
yg punya ikan itu sangatlah berharga, carilah dia lalu mintakan maafnya”. nasehat
dari orang yg soleh tadi.
Maka sang raja perintahkan para tentaranya untuk mencari laki-laki yang punya ikan itu. Akhirnya setelah bertemu, sang raja menceritakan apa yg sudah dia alami, dan bertanya kepada laki2 itu,
“Apa yg kau lakukan setelah ikan itu ku ambil
darimu?”
Dengan ketakutan dia
menjawab, “Aku tak melakaukan apapun wahai tuan raja, aku hanyalah orang yg
miskin tak punya harta benda, hari itu aku pergi mencari ikan karena anak dan
istriku kelaparan tak ada yg mau dimakan. Begitu aku mendapat ikan itu
senangnya hatiku membayangkan bisa makan bersama anak dan istriku, tapi
ternyata di tengah jalan, raja yang berkuasa merampas ikan itu, maka aku hanya
bisa mengangkat tangan dan mengadu kepada Allah”.
“Apa
do’a yg kau panjatkan?” tanya sang raja penasaran.
“Aku
hanya berkata, ya Allah Raja sudah menunjukkan kekuasaannya, maka tunjukkanlah
kekuasaanMu”
Bergetar
hati sang raja mendengar perkataan laki2 itu, ternyata Allah sedang menunjukkan
kekuasaanya membalas perbuatan zalim sang raja.
Maka dia pun menangis dan
minta maaf kepada laki2 itu, dan diapun memaafkannya.
Meskipun itu nampaknya sepele dipandangan raja,
hanya mengambil seekor ikan, dia tidak menangkap laki2 itu, lalu
menjebloskannya ke penjara, dia tidak menyiksanya dengan cambuk, tidk
memukulnya. Atau tidak pula membunuhnya. Hanya mengambil ikan di tangannya,
sepele menurut sang raja, tapi ternyata itu suatu yg besar bagi orang lain. Maka
apa hikmah yg bisa kita ambil dari kisah ini?
Jangan
pernah menyepelekan dosa kita kepada manusia. Jangan pernah meremehkan
perbuatan zalim kita kepada orang lain, mungkin itu sepele bagi kita tapi bisa
jadi sangat berharga bagi orang lain. Kita tahan gaji karyawan, kita tunda 2-3
hari menurut kita takkan masalah, tapi bisa jadi ternyata gaji yg tertunda 2-3
hari itu menjadi sangat berat bagi dia, menjadikan dia susah. Karena mungkin
ada hutang yg harus dia bayar, ada janji yg harus dia tepati, ada kebutuhan yg
sangat mendesak yg harus dia beli. Makanya Nabi meyuruh kita:
أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ
يَجِفَّ عَرَقُهُ
"Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya." (HR. Ibnu Majah)
Supaya
apa? Supaya jangan sampai zolim aniaya.
Maka para pemimpin, yg punya
bawahan, punya kryawan perhatikanlah, jangan sampai kalian berbuat zolim dengan
menahan hak orang lain.
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Takutlah berbuat zalim, karena kezhaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat” (HR. Muslim)
“Ingatlah, laknat Allah
(ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18)
lalu Mungkin ada muncul pertanyaan, kalau memang orang yg zalim itu
Allah laknat, kenapa ada orang yg lebih zalim dari sang raja tadi, tapi
hidupnya aman2 saja, dia tetap sehat, dia tetap kaya, dia tetap bekuasa, tetap
hidup panjang umurnya..
Karena Allah masih sayang kepada sang raja, mungkin karena imannya, mungkin ada amalnya, ada ketaatan yg pernah dia lakukan, karena Allah sayang maka Allah beri balasan langsung di dunia supaya tak sampai dibawa ke akhirat dosanya itu.
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ
سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ
حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ
إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa
rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan
kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Muslim no. 2573).
Maka kalau masih Allah beri sakit tandanya Allah
masih sayang. Intrispeksi diri, ingat2 lagi dosa yg pernah kita lakukan,
bertaubat perbaiki diri untuk lebih baik. Kalau ada sangkut paut dengan orang
lain, segeralah minta maaf.
Tapi kalau ada org yg selalu
Zalim, aniaya, jahat, tapi tak pernah kita lihat dia sakit, dia tetap nampak
sehat dengan harta dan kuasanya. Maka itu bukan karena Allah lupa, bukan karena
Allah lalai. Tapi itu adalah ISTIDRAJ. Azab yg tertunda.
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي
الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ
فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia
yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka
(ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang
disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad)
اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ
Sesungguhnya kami ulur bagi mereka
Allah ulur umurnya panjang, Allah ulur rezkinya banyak, Allah ulur badannya sehat.
Kenapa Allah ulur?
لِيَزْدَادُوْٓا اِثْمًا
Supaya dosanya makin bertambah
Mereka menyangka sedang menipu Allah. Dia sangka Allah lupa kepadanya. “Inna Kaidi
Matiin” padahal itu hanyalah tipu daya Allah, supaya dia semakin tenggelam
dalam dosa. Lalu tiba-tiba mati, tak
Allah berikan kesempatan untuk bertaubat.
ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ
مُّهِيْنٌ
“Setelah
itu barulah Allah akan menimpakan azab yang paling hina untuknya” dan
ketika azab itu Allah berikan tak pernah Allah lepas lagi.
Maka itulah
pentingnya kita bermuhasabah, merenung dan berpikir sejenak. Kata sahabat Nabi:
تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ
“Berpikir
sejenak lebih baik dari sholat semalam sepanjang malam”
Karena boleh jadi dengan sholat malam
kita akan merasa ibadah sudah banyak, tapi dengan merenung sejenak kita akan
merasa dosa kita lebih banyak. Maka gunakanlah hari Jum’at utk kita berpikir
dan merenung, tak bisa setiap hari, paling tidak sekali sepekan, hari Jum’at
ini kita gunakan.
Berpikir merenung, mengingat2 kembali
berapa banyak hak orang yg sudah kita ambil, berapa banyak yg belum kita minta
izinnya, berapa banyak orang yg sudah tersakiti oleh tangan kita, oleh cakap
kita yg kasar, caci maki, fitnah. Berapa banyak orang yg susah hidupnya karena
kita. Kalau masih ada orangnya cari dan mintakan maafnya. Kalau tak mungkin
lagi, tak ada lagi, cari keluarganya, kalau tak juga ada, maka banyak-banyak lah amal
soleh, banyak-banyak minta ampun kepada Allah mudah2an di akhirat nanti bisa menutupi
kesalahan dan dosa.

