Oleh : Azirwan Mustaqim, ST
Jamaah jum’at Rohimakumulloh...
Sekarang ini kita
hidup di era Globalisasi, zamannya teknologi, semuanya serba canggih, apapun
informasi bisa dicari. Semuanya ada di ujung jari. Apa yg terjadi saat ini di
benua Eropa sana, atau dibelahan bumi mana saja, kita yg ada di sini bisa
langsung tahu.
Kecanggihan teknologi informasi
yang luar biasa ini di satu sisi bisa mendatangkan kebaikan, tapi di sisi lain
juga bisa mendatangkan keburukan. Terutama bagi anak cucu generasi kita yang
akan datang. Bayangkan semua informasi yg tak terbatas itu bisa sampai ke
telinganya, dilihat oleh matanya, dibacanya, lalu masuk ke dalam otaknya.
Kalau informasi yg sampai itu yg positif, yg baik, Alhamdulillah.
Kalau yg ia baca berita2 islam. Yg ia lihat ceramah2 agama, yg ia follow akun2
islam, tokoh2 agama, dipakai untuk belajar, atau hal2 positif lainnya utk
perkembangan bakatnya.
Tapi kalau ternyata yg
sampai kepada anak2 kita itu lebih banyak yg negatifnya, lebih banyak yg
buruknya saja, maka itu pun akan masuk ke otaknya, akan mempengaruhi pikiran
dan tingkah lakunya.
Bagaimana kalau yg ia baca itu adalah tulisan2, ceramah,
pemikiran orang2 sekuler, yang memisahkan agama dg kehidupan dunia, beragama
itu hanya ketika dalam masjid saja, agama hanya ritual, ketika beribadah dalam
masjid menutup aurat, jadi orang baik. Begitu keluar masjid buka aurat lagi,
pulang haji umroh masuk ke kantor korupsi lagi.
Bagaimana kalau yg
jadi idola anak-anak kita itu tokoh liberal, yg menyatakan bahwa ternyata semua
agama ini sama, semuanya benar, boleh beribadah bersama-sama dalam suatu tempat.
Dengan dalih TOLERANSI.
Atau Bagaimana kalau
yg ia dengarkan adalah ajaran2 sesat, sholat tak perlu lagi, puasa tak perlu,
kalau sudah berbaiat kpd guru. Laki-laki perempuan saling melihat aurat dan
bersentuhan tidak apa-apa kalau sudah satu majelis, satu pengajian, satu guru.
Aliran sesat.
Bagaimana pula kalau
ternyata yg ia lihat itu adalah konten2 porno yg akan merusak mental dan
otaknya, bagaimana kalau ternyata dia ikut Judi Online yg banyak menyamar sbg
game.
Kalau zaman dulu orang
main judi di semak2, di sudut2 kampung, di tempat sepi. Malu dia kalau dilihat
orang, masih bisa kita tegur, masih bisa dibubarkan polisi atau ditangkap.
Tapi hari ini, di zaman ini, orang main judi di dalam kamarnya
masing2, di rumahnya masing2. Bebas Tanpa takut diketahui orang lain, tanpa
rasa malu kepada orang lain. Bahkan bukan hanya anak2 muda, bapak2 sampai ibu2
dan nenek2 pun di zaman ini ikut juga main judi. Nauzubillah...
Belum lagi bagaimana
maraknya pergaulan bebas di kalangan generasi muda, maraknya Narkoba yg akan
merusak masa depan mereka.
Begitulah luar
biasanya keadaan hari ini yg harus kita hadapi, dan itu masih ketika di zaman
kita hidup, lalu bagaimana kira2 nanti di zaman anak cucu kita. Bagaimana 10
tahun, 20 atau 30 tahun yg akan datang. Bagaimana lagi kira2 tantangan yg akan
dihadapi oleh anak2 cucu kita nanti.
Maka tak ada lain yg
bisa menyelamatkan mereka, yg akan menuntun mereka dalam menjalani kehidupan di
masa yg akan datang, kecuali dg bekal iman yg kuat dan ilmu agama yg cukup.
Kalau bukan kita
selaku orang tua yg memikirkan ini lalu siapa lagi, itulah sebabnya Alloh
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا
اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارً
“Wahai orang beriman jagalah dirimu, dan keluargamu dari api neraka”
Tugas orang tua,
terutama kepala keluarga bukan hanya mencukupkan nafkah keluarganya, tapi yg
lebih besar lagi adalah menjaga iman mereka, supaya selamat dari neraka.
Karena anak, istri, keluarga itu adalah amanah.
كُلُّكُمْ رَاعٍ
وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang
dipimpinnya”
Seorang suami, kepala keluarga. Akan ditanya
tentang istri dan anak-anaknya.
Jamaah jum’at Rohimakumulloh...
Maka salah satu cara
terbaik untuk menyelamatkan anak-anak kita di tengah zaman yg edan ini adalah dengan
membekali mereka pendidikan agama sejak dini, masukkan mereka ke sekolah2
agama,
Mulai dari TK nya TK
islam, SD islam, kalaupun SD Negri tak apa2 , tapi tambahkan lagi dg MDA
siangnya, antarkan ke guru ngaji malamnya. Karena di usia itu lah mulai
dibangun pondasi agamanya. Tamat SD yg paling bagus lanjutkan ke Pondok Pesantren, pelajaran agamanya lebih
banyak, dia akan fokus belajar karena tinggal di asrama, tak bisa dia main HP,
selamat dari pergaulan bebas. Tapi pesantren rata-rata mahal biayanya. Kalau
masih bisa dipaksa-paksakan, kalau masih bisa dicukup2kan, kalaupun kita selaku
orang tua harus menahan2 selera, mengurang2i hobi, menekan pengeluaran, demi
bisa memasukkan anak ke pondok pesantren, maka lakukanlah. Demi keselamatan
masa depan anak kita. Anggaplah itu semua sebagai INVESTASI Akhirat kita,
jangan anggap itu sbg beban. Tapi itu adalah tabungan akhirat, tabungan pahala.
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ
انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ
يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Kalau
manusia mati, maka putuslah amalnya, kecuali tiga: shodaqoh jariyah, ilmu yang
bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim no. 1631).
Salah satu dari amal yang tak terputus itu adalah
anak yang soleh.
Ketika
jasad terbujur kaku tak bernyawa, di saat badan hanyalah sebujur bangkai tak
berharga, di saat tiada siapapun yang bisa menolong, maka yang bisa diharapkan
adalah anak yang kita tinggalkan.
Kalau
dulu dia kita didik dengan pendidikan yang baik, kita bekali dengan agama yang
baik, maka dia yang akan memandikan kita, dia akan ikut menyolatkan, bahkan
menjadi imamnya, dia yang akan meletakkan kita dalam liang lahat, dia yg akan
membacakan yasin, tahtim, dan tahlil. Di setiap sholatnya dia akan selalu
berdo’a,
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ
وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا
Maka mengalirlah pahala seperti air yang sejuk membasahi
tenggorokan yang kering.
Setiap kali dia membaca Alqur’an, berzikir, sholat sunnat, bersedekah,
dan setiap kali dia berbuat amal soleh, maka semua pahala itu otomatis juga akan
mengalir kepada kedua orang tuanya, meskipun tanpa dia niatkan akan mengalirlah
itu sebagai pahala di alam barzah sementara kiamat tiba.
Begitulah kalau yg
kita tinggalkan anak yg soleh.
Dari mana
datangnya anak yg soleh? Pendidikan agama.
Maka kalau
masih bisa disakit2an demi anak bisa masuk pondok pesantren, lakukanlah.
Tapi kalaupun memang
tak sanggup, memang sulit tak mungkin, maka masukkanlah dia ke Madrasah. Madrasah
Tsanawiyah, Aliyah. Karena Pelajaran agamanya lebih banyak dari sekolah umum. Ada
belajar Fiqih, bahasa arab, akidah akhlaq, sejarah islam. Alqur’an Hadits.
Kita tidak sedang merendahkan sekolah umum, tapi
kenyataannya hari ini, pelajaran agama di sekolah umum itu hanya 3 jam dalam
sepekan. Disitulah mau dipelajari semuanya. Berapalah yg dapat anak-anak itu.
Lalu mungkin ada pula
yg akan berkomentar, anak-anak yg sekolah agama itu nakal-nakal juga tingkah
lakunya. Ya kalau masalah nakal semua sekolah pasti ada, bahkan Ponpes pun ada.
Jangan itu yg kita ambil contoh, lihatlah yg baiknya, pasti lebih banyak yg
baiknya. Lagipun kalau mau dibalik logika berpikir seperti itu, maka sedangkan
yg sudah sekolah agama saja tetap juga bisa nakal, apalagi kalau sekolah umum.
Jamaah jum’at Rohimakumulloh...
Maka selamatkan anak
kita dengan pendidikan agama.
Namun tentu saja tak
cukup hanya dengan pendidikan. Harus kita pahami, bahwa Kita selaku orang tua,
pemimpin dalam keluarga, Kita adalah contoh pertama yg menjadi panutan bagi
anak2 kita. Maka kalau kita mau anak kita baik, kita harus juga baik. Kalau
kita mau anak kita soleh, kita pun harus jadi orang tua yg soleh. Kita mau anak
kita sopan santun berakhlak mulia. Maka kita pun harus punya akhlak yg mulia.
Bagaimanapun hebatnya
pendidikan agamanya di sekolah, tapi kalau yg dia lihat setiap hari di rumah
itu contoh yg tidak baik, maka akan sulit juga dia bisa menjadi baik.
Mudah2n Alloh swt senantiasa pelihara iman
kita, perbaiki pemahaman agama kita, dan menolong kita dalam membesarkan dan
mendidik anak-anak kita. Sehingga mereka menjadi generasi yang beriman dan
bertaqwa.
Amin Ya Rabbal alamiin...
LINK DOWNLOAD PDF : Pentingnya Pendidikan Agama

Tidak ada komentar:
Posting Komentar