Senin, 17 Februari 2025

KHUTBAH JUM'AT : MENSYUKURI NIKMAT

Oleh : Ustadz Azirwan Mustaqim, ST

Kaum muslimin jamaah Jumat rahimakumulloh…

Kenapa dalam setiap pembuka kata selalu dimulai dengan ucapan hamdalah, dan puji-puijian kepada Alloh?  Khutbah Jum’at tidak sah kalau tidak menyebut Alhamdulillah dan memuji Alloh, do’a tak akan sampai kalau tak diawali dengan pujian kepada Alloh. Karena memang disetiap detak jantung kita, disetiap detik hidup kita  ini tak pernah lepas dari nikmat Alloh SWT. Dan memuji Alloh adalah salah satu cara bersyukur kepadaNya.

Mengapa kita harus selalu bersyukur? Karena bersyukur kepada Alloh wajib hukumnya. Alloh berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada Ku, dan Jangan kamu mengingkari nikmat Ku!!”

 

Tegas dan jelas Alloh perintahkan kita untuk bersyukur kepadaNya.

Lalu Diantara hal yang membuat kita pandai bersyukur kepada Allah yaitu dengan merenungkan bahwasanya nikmat Allah begitu banyak yang telah kita terima. Saking banyaknya, dalam Alqur’an Alloh sampai katakan:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kamu hendak menghitung nikmat Alloh, maka kamu tidak akan pernah sanggup menghitungnya”

Bermacam-macam bentuk nikmat Alloh, ada nikmat zohir ada nikmat batin, kata Alloh:

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

Dan Allah menyempurnakan nikmat kepada kalian, nikmat yang dzahir dan nikmat yang batin.” (QS. Luqman[31]: 20)

Nikmat zohir adalah nikmat yang nampak secara fisik. Badan yang sehat, harta yang banyak, makanan yang cukup, kekuasaan dan jabatan, orang tua yang masih ada, pasangan hidup, anak-anak yang sehat, rumah tempat bernaung, tinggal di negara yang aman dan damai.  Ini contoh nikmat yang zohir.

Ada pula nikmat yang sering kita lupakan. Karena nikmat itu terus kita terima, sehingga kita merasa  sudah jadi hal yang biasa dan kita abaikan.

Diantara nikmat-nikmat itu, kata Allah:

وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ﴿٢١﴾

Dan pada diri kalian tidakkah kalian melihat?” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 21)

 

Coba sesekali perhatikan bentuk tubuh kita yang sempurna, dengan sistem dan anggota tubuh yang lengkap.

Apa Bisa kita hitung sehari Berapa kali tangan terayun? berapa kali kaki melangkah? berapa kali kedipan mata, berapa kali detak jantung? Berapa banyak oksigen yang kita hirup? Berapa liter darah yang dicuci buah pinggang. Berapa kata yang diucap oleh lidah? Berapa yang didengar telinga? Dan berapa banyak yang dilihat oleh mata?

Begitu banyak nikmat yang ada pada diri kita saja sulit kita untuk menghitungnya, apalagi untuk menghitung semua nikmat Alloh lainnya.

 

Lalu ada pula nikmat batin, Nikmat yang tak terlihat secara fisik, tapi Nikmat ini lebih utama dari semua nikmat, inilah nikmat yang paling besar dan paling berharga diantara nikmat yang diberikan Alloh SWT. Yaitu nikmat Iman dan Islam.  

Alloh berfirman dalam Alqur’an:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu”

 

Nikmat terbesar yang diberikan Alloh kepada kita adalah agama yang sempurna yang dibawa oleh Baginda Nabi Muhammad . Maka sebagai bentuk cinta dan syukur kita, kita bersholawat kepada Nabi “Allohumma Solli ala sayyidina Muhammad”.

Namun kenyataannya banyak diantara kita yang tidak sadar dan kurang mensyukuri nikmat ini. Padahal Nikmat iman inilah yang akan menyelamatkan kita dari penderitaan neraka jahannam yang kekal abadi menuju kenikmatan surga yang abadi pula.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنّٰتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka disediakan surga Firdaus menjadi tempat tinggalnya” (Al-Kahfi 107)

Kaum Muslimin jamaah jumat yg dimuliakan Alloh.....

Lalu bagaimana cara kita mensyukuri nikmat itu? Apakah cukup hanya dengan ucapan Alhamdulillah saja? Maka paling tidak ada 3 hal yang harus dilakukan untuk bersyukur kepada Alloh:

1.       Mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah Ta’ala,

         Meyakini dalam hati bahwa tak ada di dunia ini yang bisa memberikan nikmat kecuali Alloh, apapun nikmat yang kita terima, itu datangnya dari Alloh.

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ

Kenikmatan apa saja yang kamu rasakan semuanya dari Allah” (QS. An-Nahl[16]: 53)

Sebesar apapun usaha kita, sekuat apapun keinginan kita, hanya dengan izin Alloh lah bisa kita raih dan dapatkan. Maka segala keberhasilan yang kita capai itu karena Alloh, harta yang kita punya itu dari Alloh, badan yang sehat itu pemberian Alloh. Pangkat dan jabatan itu atas izin Alloh. Kalau yang demikian itu sudah tertanam kuat dalam hati, maka ketika nikmat itu banyak kita tidak akan sombong, ketika sedikit kita tidak sedih dan ketika tidak ada kita tidak akan kecewa dan putus asa. Karena itulah ketentuan Alloh, dan Alloh maha tahu yang terbaik.  

2.       Mengungkapkan rasa syukur dengan memuji Allah

dengan mengucapkan Alhamdulillah, subhanalloh, Allohuakbar. Perbanyak menyebut nama Alloh, memuji Allah dan Mengagungkan asma Alloh.

 3.       Menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah

Ini adalah bentuk syukur yang paling tampak secara nyata. Selagi nikmat itu masih ada, maka pergunakanlah nikmat untuk kebaikan.

Diberi Alloh nikmat harta maka gunakan untuk infak sedekah, menolong orang lain, membantu fakir miskin dan anak yatim.

Mumpung masih berkuasa, masih punya pengaruh, maka pergunakan untuk menolong agama Alloh, bangun sekolah-sekolah agama, bantu pembangunan masjid, bantu guru-guru ngaji, guru MDA. Diberi Alloh Nikmat mata yang masih terang memandang, maka pergunakan untuk banyak membaca Alqur’an.

Selagi telinga masih jelas mendengar, maka pergunakanlah untuk mendengar wirid pengajian, mendengar ceramah, menambah ilmu agama. Mumpung kaki masih kuat dan badan masih sehat, pergunakan utk melangkah ke masjid melaksanakan sholat berjamaah. 

Maka salah satu tanda orang yang bersyukur itu adalah banyak beribadah kepada Alloh.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat sunat sampai kaki beliau bengkak. Ketika ditanya oleh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha: “Ya Rasulullah, kenapa engkau shalat sampai demikian?” Maka Nabi menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Bukankah aku semestinya menjadi hamba yang bersyukur”

Nabi saja yang sudah dijamin Alloh masuk surga, sedemikiannya beribadah kepada Alloh sebagai bentuk syukurnya. Lalu bagaimana dengan kita?

Maka kita tak mampu seperti Nabi, karena kita hanya manusia biasa. Maka paling tidak lakukanlah apa-apa yang wajib yang Alloh perintahkan dan tinggalkan apa-apa yang haram yang Alloh larang,  sebagai bentuk kecil rasa syukur kita kepadaNya. Kalau itu tak juga bisa kita lakukan, maka sungguh betapa hina dan rendahnya kita. Karena binatang saja masih tau berterima kasih dan patuh kepada tuannya. Meskipun yang diterimanya hanyalah sampah dan sisa-sisa. Tapi kita manusia diberikan nikmat terbaik oleh Alloh yang tak terhitung jumlahnya         

Kaum Muslimin Rahimakumulloh....

Semua orang di dunia ini pasti ingin bahagia hidupnya. Semua manusia pasti mendambakan kebahagiaan, tapi sayangnya kebanyakan manusia menyangka standar kebahagiaan itu hanyalah harta,  kekayaan, popularitas, kekuasaan dan jabatan.

Padahal tidak selamanya harta akan mendatangkan kebahagiaan, karena banyak juga orang kaya yang gelisah dan tak tenang hidupnya, bahkan tak bisa nyenyak tidurnya.

Tak selamanya popularitas mendatangkan kebahagiaan, karena banyak juga orang yang terkenal itu yang tak tenang hidupnya, tak bahagia rumah tangganya.

Begitu pula pangkat Jabatan, tak selamanya  menjamin mendatangkan kebahagiaan, karena banyak juga para pejabat yang tertangkap korupsi mencuri uang rakyat, itu tandanya jabatannya belum cukup membuatnya bahagia. 

 

Maka sebenarnya hakikat kebahagiaan itu adalah tenangnya hati dan lapangnya dada. Meskipun di dunia engkau tidak memiliki harta yang banyak, tidak memiliki kemewahan, terkadang dari pandangan orang engkau serba kekurangan, tapi dengan ketaqwaan, keimanan dan rasa syukur kepada Allah, maka Alloh berikan kebahagiaan, ketentraman dan ketenangan dalam hatimu.

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dialah yang menurunkan ketenangan di hati orang yang beriman”

Maka ketenangan dan kebahagiaan itu hanya akan didapat ketika orang itu pandai bersyukur kepada Alloh swt.

 Maka dihari yang agung dan mulia ini kita merenung sejenak, tanya diri kita. Apakah selama ini kita sudah bersyukur kepada Alloh? Apakah nikmat-nikmat yang kita terima selama ini digunakan untuk kebaikan atau keburukan? Apakah digunakan untuk ibadah atau berbuat dosa? Apakah nikmat membuat kita semakin dekat dengan Alloh atau malah semakin jauh?

Merenung sejenak, mengingat betapa banyaknya nikmat Alloh, dan berapa yang baru bisa kita syukuri? Karena Alloh ta’ala berfirman”

لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

“Kelak pada hari itu kamu akan ditanya tentang semua nikmat yg pernah kamu terima”

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ

 وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Link Download PDF : Mensyukuri Nikmat

Link Video YOUTUBE

Minggu, 16 Februari 2025

KHUTBAH JUM'AT : ORANG YANG BANGKRUT

 Hadirin Jama’ah Jum’at yang Dimuliakan Allah SWT....

        Setiap Jum’at khotib selalu berpesan “Ittaqullah” bertaqwalah kepada Allah. Takutlah kepada Allah. “Ittaqulloha Haqqotuqotih” Bertaqwalah kalian dengan sebenar-benarnya taqwa. Taqwa bukan hanya sekedar status di WA, Taqwa bukan hanya sekedar terucap di lisanmu, tapi taqwa yang sebenarnya, mengingat Allah dan tidak melupakannya, syukur dan tidak kufur kepadanya, taat dan patuh atas semua perintah Allah dan tidak melanggar larangannya.

Kenapa wasiat taqwa ini terus diulang-ulang setiap Jum’atnya? Karena memang inilah jalan keselamatan.

اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ  

Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (ada) kemenangan (surga),

Maka kita perlu sering-sering mengevaluasi diri kita, apakah selama ini kita sudah bertaqwa, atau kita hanya pura-pura bertaqwa?

Mungkin sebagian kita merasa sudah bertaqwa, merasa sudah banyak ketaatannya, karena tiap tahun puasa Ramadhan, tiap hari datang ke masjid sholat berjamaahnya, zakat dan sodaqohnya tak pernah tinggal, Haji dan umroh setiap tahun. Baca qur’annya banyak, puasa senin kamisnya rutin.

Ya Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah atas semua amal soleh yang sudah kita lakukan, tapi tau kah kita, ternyata nanti pada hari kiamat ada orang-orang yang soleh, ada orang-orang yang banyak ibadahnya ketika di dunia, tapi akhirnya dia masuk neraka. Kenapa bisa? lalu Kemana semua ibadahnya itu? Kemana semua amal solehnya itu?

Ternyata ada yang akan merampas pahala semua amal-amalnya itu, yang dia tidak sadari tatkala masih hidup di dunia. Maka Nabi kita Muhammad SAW, jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita tentang hal ini, dalam sebuah hadits riwayat imam Muslim:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ

“Taukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”


Kata Nabi kepada para sahabat, kemudian para sahabat menjawab:

قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ

”orang yang bangkrut itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Setahu kami ya Rosul, orang yang bangkrut itu mereka yang tak lagi punya dirham atau uang dan juga tak punya harta benda.

Ya itu orang yang bangkrut ketika di dunia. Tapi nanti ada orang-orang yang bangkrut ketika di akhirat:

فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ

Adapun orang yang bangkrut dari kalangan ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat yang banyak. Dia datang membawa pahala puasa yang banyak, dia datang dengan pahala zakat yang banyak.

Berarti sholatnya diterima, puasanya diterima, dan zakatnya diterima, semua ibadahnya itu dia lakukan dengan ikhlas dan sesuai syarat rukunnya, karena ada pahalanya, namun ternyata dia bangkrut. Kenapa?

وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا

وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا

Dia datang membawa pahala yang banyak, ini orang soleh, mungkin di mata kita orang ini terlihat masyaAllah soleh, taat, ahli ibadah. Tapi ternyata lisannya tidak dijaga, suka memaki orang, suka menghina orang, merendahkan orang, menggunjing, menjelek jelekkan orang, memfitnah orang. Dia juga suka mengambil hak orang lain dan mengambil harta orang.

Baik dengan cara mencuri, menipu, gaji karyawan yang tak dibayarkannya ataupun dengan cara berhutang yang tidak dibayarnya. Dia juga pernah memukul orang dan menumpahkan darah. Banyak menzolimi orang lain.

Maka semua orang yang pernah dizoliminya itu yang belum ia mintakan maafnya, mereka semua akan datang kepada Allah meminta keadilan untuk menuntutnya.

فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ

Maka diambillah pahalanya yang banyak tadi, diambil pahala sholatnya diberikan kepada si fulan. Diambil pahala puasanya diberikan kepada si fulan, diambil pahala zakatnya diberikan kepada si fulan, begitu seterusnya, sampai habis semua pahalanya yang banyak tadi. Sementara orang-orang yang menuntutnya masih banyak. Orang yang meminta keadilan masih ada.

فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ

أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

Maka diberikanlah dosa orang-orang itu kepadanya, dipindahkan dosa orang-orang yang pernah ia zolimi itu kepadanya sesuai dengan kadar kezolimannya kepada mereka. Maka habis sudah semua pahala dan bertambah sudah dosa, maka kemanakah tempat akhirnya?

ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Kemudian dia dicampakkan ke dalam neraka”

Maka tidak ada kemalangan yang lebih besar dari ini, ketika merasa sudah menjadi orang yang soleh, merasa sudah jadi ahli surga, tapi justru akhirnya masuk neraka.

Maka jama’ah, kita perlu banyak-banyak duduk merenung, mengingat-ingat kembali sepanjang perjalanan hidup kita ini, siapa saja orang-orang yang pernah kita zolimi. Orang-orang yang pernah kita aniaya, orang-orang yang pernah terluka oleh kita, baik secara fisiknya, ataupun perasaanya.

Karena ternyata yang paling banyak memasukkan orang ke neraka itu adalah karena lisannya. Mungkin kita merasa tak pernah mencuri milik orang, tak pernah memukul orang, tak pernah menipu orang. Tapi bagaimana dengan lisanmu? Bagaimana dengan tulisanmu, komen-komen mu di media sosial yang pernah menceritakan aib orang, yang pernah menyebarkan fitnah, yang pernah menyakiti dan melukai perasaan orang. Atau meskipun orang itu tidak tau kalau engkau pelakunya, tapi Allah maha tahu segalanya. Allah akan catat itu, dan akan disoal nanti ketika tiba masanya.

Maka sekali lagi, banyak-banyak lah merenung dan berpikir, terutama di bulan Ramadhan yang mulia ini, mengingat kembali masa lalu kita, mengingat kembali orang-orang yang pernah terzalimi oleh kita, baik yang kita sengaja ataupun yang tidak disengaja. Kalau masih bisa kita berjumpa dengannya, maka jumpai dan mintalah maafnya, kalau tak bisa maka cari keluarga kerabat yang masih ada hubungan dengannya, perbaiki hubungan dan mintakan maaf lewatnya. Mudah-mudahan dia bisa memaafkan dan Allah mengampuni kita.

Kalau selama ini memang belum pernah berbuat zolim kepada orang lain, tidak pernah menyakiti orang lain, maka Alhamdulillah, tetaplah istiqomah!

Jaga terus lisan kita, jaga tangan kita, jaga semua anggota tubuh kita, jangan sampai pernah menzolimi orang lain. Karena Kalau kita tak pandai menjaganya, sungguh sayang jamaah,

Capek-capek kita sholat berjamaah bolak balik ke masjid, susah payah kita puasa melawan hawa nafsu, mengeluarkan Zakat, sedekah dengan berat melawan sifat bakhil. Kita sholat Jumat hari ini, kita datang cepat sholat tahiyatul masjid, sholat qobliyah, tapi ternyata semua amal ibadah kita ini akan kita berikan kepada orang lain. Maka tidakkah kita berpikir dan merenungkannya.

Mudah-mudahan Allah SWT menyelamatkan kita semua, jangan sampai menjadi orang yang bangkrut, baik di dunia terlebih lagi bangkrut ketika di akhirat.

Link Download PDF : Orang Yang Bangkrut

Link Video YOUTUBE

 

Sabtu, 15 Februari 2025

Kumpulan Do'a Khutbah

Berikut beberapa do'a yang bisa ditambahkan pada khutbah yang kedua sesuai dengan tema khutbah yang kita sampaikan, misalnya ketika khutbah tentang mensyukuri nikmat Allah maka tambahkan do'a agar kita menjadi orang yang pandai bersyukur. ketika khutbah tentang Jangan makan yang haram, maka tambahkan do'a supaya selamat dari yang haram. Sehingga khutbah yang telah kia sampaikan itu  lebih lengkap dan lebih merasuk lagi ke dalam hati jama'ah karena terus diingatkan bahkan sampai diakhir do'a..  


Do’a Agar Jadi Orang Yang Pandai Bersyukur

رَبَّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَينَا وَعَلَى وَالِدَينَا

وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنَا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang tuaku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.(An-Naml : 19)

 

Do’a agar selamat dari yang haram

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim, no. 2721; dari ‘Abdullah)

 اللَّهُمَّ أَغْنِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

"Ya Allah cukupkan lah aku dengan yang halal dan jauhkan lah aku dari yang haram, dan cukupkan lah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu."



اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعاً وَرِزْقاًً طَيِّباً وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allâh Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima


Do’a agar Bersama dengan Nabi di Surga

الَّلهُمَّ إِنِّي أَسْأَ لُكَ إِيمَانًا لاَيَرْتَدُّ وَنَعِيمًا لاَيَنفَدُ

وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صلى اللهُ عليهِ وسلّم فِي أعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu iman yang tak pernah berbalik jadi kufur, kenikmatan yang tidak sirna, dan agar mengiri Nabi Muhammad di surga abadi yang paling tinggi


Do’a agar Istiqomah

يَامُقَلِّبَ الْقُلُوب ثَبِّت قُلُوبَنَا عَلى دينِكَ وَعَلى طَاعَتِكَ

Ya Alloh engkau yang Maha membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati kami untuk istiqomah dalam agamaMu dan dalam ketaatan beribadah kepadaMu

 

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

 "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu. Sungguh hanya Engkaulah Yang Maha Pemberi karunia." (QS. Âli 'Imrân: 8)

 

Do’a agar ditunjukkan kepada kebenaran

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan bantulah kami untuk menjauhinya.

 

Do’a untuk kaum muslimin Palestina

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِين 

Ya Allah muliakanlah agama Islam dan kaum muslimin,

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين

Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami dan para mujahid yang ada di Palestina

 

Do’a dijauhkan dari musibah dan bencana

اَللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلَآءَ وَالْبَلَآءَ وَالْوَبَآءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ

مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَما بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بَلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً

إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Ya Allah, hindarkanlah Kami dari kekurangan pangan, cobaan hidup, penyakit-penyakit atau wabah, perbuatan-perbuatan keji dan munkar, yang lahir maupun batin dari negeri kami ini pada khususnya dan dari seluruh negeri kaum muslimin pada umumnya, karena sesungguhnya Engkau kuasa atas segala sesuatu


Link Download PDF : Kumpulan Do'a

Khutbah Jum'at : Jangan Sampai Hati Itu Mati


Kaum muslimin jamaah jumat rahimakumulloh..

Manusia diberikan Allah bekal 3 alat untuk menangkap kebenaran, Innassam’a (pendengaran).  Walbashor (penglihatan), Walfuad (hati dan pikiran). Ketiga-tiganya ini nanti akan ditanya dihadapan Allah SWT.

اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, hati dan pikiran,  semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (Al-Isra’ : 36)

Maka laki-laki yang baligh berakal, tidak dalam keadaan sakit atau musafir, dia mesti wajib mendengarkan khutbah Jum’at sekali sepekan.

مَنْ تَرَكَ الجُمُعَةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِه

“Siapa meninggalkan shalat Jumat tiga kali karena meremehkan, niscaya Allah menutup hatinya,” (HR At-Turmudzi, At-Thabarani)

Kenapa ujung hadits ini yang disebut hati? karena berawal dari pendengaran. 3 kali tak mau Mendengar khutbah Jum’at, dikunci pintu hatinya. maka hati yang terkunci itu berawal dari telinga yang tak mau mendengar.

Semuanya dalam Islam ini adalah hati,

وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ

وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

“Di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari Muslim)

 

Maka azab yang paling besar, laknat yang paling mengerikan bukan sakit, karena boleh jadi dengan sakit itu dosa diampuni, boleh jadi dengan sakit dapat pahala sabar. Laknat terbesar adalah ketika pintu hati sudah terkunci.

Maka dalam Al-qur’an Allah katakan:     صُمٌّ ۢ بُكْمٌ عُمْيٌ

(Tuli, bisu, buta) akibat dari apa? Karena hati sudah terkunci.

Maka mungkin kita sering heran melihat orang yang tak ada sedikitpun takutnya berbuat dosa, kita heran melihat orang yang sulit sekali mendapat hidayah. Sekuat apapun speaker masjid panggilan suara azan itu tak juga membuatnya datang ke masjid.

Karena pintu hatinya sudah terkunci. Tak lagi masuk suara azan itu ke telinganya.  

خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Karena pintu hatinya sudah tertutup. Dan itulah awal dari azab Allah.

Maka di Hari Jum’at yang penuh berkah ini kita disuruh datang ke masjid mendengarkan khutbah, mendengarkan wasiat taqwa. Tujuannya adalah untuk menghidupkan hati, supaya hati tidak terkunci..

Kalau mata tugasnya untuk melihat, telinga untuk mendengar, maka hati tugasnya adalah untuk merasa. Pandai-pandai merasakan perasaan orang lain.

Maka ketika orang sudah mengaku beriman, apa tandanya? Hatinya mudah merasakan perasaan orang lain. Maka puncak iman dalam Islam adalah:

لَا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ، حتَّى يُحِبَّ لأخِيهِ ما يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari)

Kalau saudara kita itu lapar, maka kitapun merasakan yang sama. Kalau makanan itu terasa enak lewat ditenggorokan kita, maka kitapun ingin saudara kita merasakan yang sama. Kalau kita senang mendapatkan sesuatu, maka kitapun ingin saudara kita mendapatkan hal yang sama.

Itulah yang dimaksud mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri. Baik saudara kandung, maupun saudara seiman.

Suatu kisah seorang perempuan tunasusila sedang lewat di sebuah sumur tempat air minum, lalu dia singgah di sumur itu untuk mengambil air minum, dan ternyata disitu dia lihat ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya karena kehausan, dia tak bisa minum karena airnya jauh ke dalam sumur. Tersentuh hati perempuan itu melihat anjing yang sedang kehausan, maka dia ambil air dalam sumur itu dengan sepatu botnya dia berikan kepada anjing itu. Maka ketiga makhluk ini semuanya kotor, perempuan ini kotor, seorang tunasusila (pezina), anjing itupun kotor najis, dan air yang dibawakan dalam sepatunya juga kotor. Tapi kata Nabi, perempuan itu diampuni dosanya oleh Allah dan dimasukkan ke surga. Kenapa? Apa amal dia?

Amalnya adalah amal hati, merasakan perasaan makhluk Allah. Kisah ini diceritakan oleh Nabi Muhammad terjadi pada zaman bani israel. hadits ini shahih riwayat imam Bukhari dan Muslim, dan ada dalam kitab Riyadusshalihin hadits no 126.

Sahabat yang mendengar hadits ini lalu bertanya, “Ya Rasulullah apakah perbuatan baik kepada binatang juga ada pahalanya?”

Maka Nabi menjawab:

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Setiap perbuatan baik pada hati yang basah bernilai pahala”

Hati yang basah maksudnya adalah setiap makhluk hidup.

Kalau merasakan perasaan hewan saja pun dapat pahala, bagaimana dengan merasakan perasaan manusia, merasakan perasaan saudara? Maka itulah puncaknya iman.

Kaum muslimin jamaah jumat rahimakumulloh..

Yang menjadi persoalan dalam agama kita Hari ini bukanlah kekurangan orang yang sholat di masjid, meskipun tak selalu penuh masjid ini, tapi Alhamdulillah selalu ada jamaahnya.

Hari ini kita tidak kekurangan jamaah haji dan umroh, jamaah haji sampai antri menunggu 20 tahun. Jamaah umroh setiap hari penuh bandara ada saja yang berangkat umroh. Hari ini kita tidak kekurangan jamaah zikir, maulid nabi, isra’ mi’raj tabligh akbar, ramai.

Tapi yang menjadi persoalan dalam agama kita hari ini adalah kita sedang krisis kekurangan orang yang pandai merasakan perasaan orang lain. Kita kekurangan orang yang mau peduli kepada orang lain.

Kalau ada orang yang mengaku beriman, merasa yang penting saya sudah sholat, yang penting saya sudah puasa, yang penting saya tahajjud malam, yang penting saya sudah haji, yg penting saya sudah umroh setahun 2 kali.

Tapi terhadap tetangganya yang tak makan dia tak peduli, ada orang yang susah hidupnya dia tak mau tau, ada anak yatim yang tak bisa sekolah bukan urusan dia. Maka kata Nabi:

 لَا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ

Engkau belum beriman, Karena hatimu belum pandai merasakan perasaan orang lain.

Kalau ada orang yang mengaku beriman, sudah sholat, sudah puasa, sudah zakat, sudah haji. Tapi ketika melihat saudaranya mendapat nikmat dia merasa seperti mendapat musibah, ketika melihat saudaranya senang bahagia justru dia merasa sedih dan berduka.

Maka kata Nabi:

لَا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ  

Kamu belum beriman. Karena hatimu belum pandai merasakan perasaan orang lain.

Maka apa tandanya hati pandai merasa? Senang melihat orang senang, susah melihat orang susah. Bukan sebaliknya. Senang melihat orang susah, susah melihat orang senang.

Maka itulah perlunya kita selalu mengasah hati, bagaimana supaya menghidupkan rasa itu. Diantaranya ada 3 cara :

1.       Tafakkaru sa’ah (berfikir/merenung sejenak)

Waqfah ma’annafsi (sejenak bersama jiwa) banyak-banyak introspeksi diri. Itulah kita disuruh datang cepat sholat jum’at ini, datang sebelum masuk waktu, sholat sunnat tahiyatul masjid, duduk merenung, berfikir, aku ini mau kemana? Yang ku cari di dunia ini apa? Sudah hidup di dunia ini berapa lama? Kalau mati hari ini yang ku bawa apa? Merenung dan berpikir, di hari yang lain kita terlalu sibuk, belum lagi selesai satu pekerjaan datang lagi pekerjaan yang lain. Semakin canggih HP semakin sibuk kita, sampai tak sempat untuk merasa, jangankan merasakan perasaan orang lain, merasakan perasaan kita sendiripun kita tak bisa. maka gunakanlah waktu yang singkat di hari Jum’at ini untuk merenung. Untuk mempertajam rasa.

 2.       Rajin2 datang untuk Takziah dan Tahniah

Susah melihat orang lain susah, maka kita datang takziah, tanda kita ikut berduka, ikut bersusah hati melihat saudara kita yang sedang ditimpa musibah.

Senang melihat orang lain senang, maka datang kita ucapkan tahniah, selamat, karena dia sedang mendapatkan nikmat, do’akan dia dengan tulus ikhlas. Tandanya kita ikut senang melihat dia senang.

 

3.       Banyak-banyak mendengarkan nasihat

Hati yang pandai merasa, berawal dari telinga yang mau mendengar, mata yang mau melihat. Maka banyak2lah mendengar pengajian, menghadiri majelis ilmu, supaya hati itu mudah merasa, mudah pula diisi dengan kebaikan. Jangan sampai tak datang sholat jum’at, jangan sampai tak ikut mendengarkan khutbah.

 

Maka pakailah telinga untuk mendengar, gunakan mata untuk melihat, dan hati untuk berpikir merenung. Karena kalau tidak, kata Allah:

لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا

Mereka punya hati tapi tidak dipakai untuk memahami (ayat-ayat Allah),.

وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا

Mereka punya mata tapi tidak digunakan untuk melihat i’tibar pelajaran

وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ

Mereka punya telinga tapi tidak digunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah)

أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ

Mereka itu seperti binatang ternak

Namun saudara-saudara ku, binatang itupun terkadang masih bisa juga diarahkan, bisa digiring ke kandang, ke tempat makannya, maka kata Allah:

 بَلْ هُمْ أَضَلُّ

Bahkan mereka lebih hina / lebih sesat lagi dari pada binatang. (QS. Al-A'raf 179)

Link Download PDF : Jangan Sampai Hati Mati

LInk Video YOUTUBE


BAYARLAH ZAKAT