Oleh: Azirwan Mustaqim, ST
Jamaah Jumat yg dimuliakan Alloh
Hari ini Jum’at 15 Agustus 2025, kita sedang berada dalam bulan yg
bersejarah bagi kita bangsa Indonesia, Karena 80 tahun yg lalu tepat di hari yg
sama hari Jum’at, pada tanggal yg 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamirkan
kepada seluruh dunia, bahwa dia bebas dari penjajahan, bahwa dia merdeka dari
segala bentuk penjajahan.
Dan 17 Agustus 1945 itu ternyata bertepatan pula dengan tgl 9 Ramadhan 1364
H. ini hampir tak pernah disebutkan dalam pelajaran sejarah di sekolah anak2
kita, sehingga banyak orang yang tidak tahu. Memang apa pentingnya? Bagi orang-orang yang tidak mengerti agama, mungkin ini hal yang biasa. Tak ada yg istimewa, Tapi
bagi orang yg beriman kepada Alloh, ini adalah hal yg luar biasa, istimewa,
karena pada saat itu bertemunya 2 kemuliaan. Kemuliaan hari Jum’at sebagai
sayyidul Ayyaam, dan kemuliaan bulan Ramadhan sebagai sayyidusy syuhur.
Ini menunjukkan bahwa mereka para pejuang, para pendiri bangsa adalah
orang-orang yg religius, beragama. Ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan itu
sarat dengan nilai-nilai Islam. Dan kemerdekaan
Negri ini bisa kita raih semata-mata adalah karena Rahmat dan pertolongan dari
Alloh swt.
Kemerdekaan bukanlah hadiah dari Belanda, bukan pula
kado dari Jepang, Kita merdeka bukan karena senjata yg canggih, kita merdeka bukan
karena tentara yg terlatih, karena kebanyakan dari para pejuang itu hanyalah
orang-orang biasa saja, rakyat biasa, guru, para santri, para petani, para ulama. Dinilai
dari sudut pandang manapun, menurut ahli strategi perang manapun, maka tak
mungkin kita akan menang melawan para penjajah itu. Tapi dengan pertolongan
Alloh lah kita bisa mencapai dan mempertahankan kemerdekaan itu.
Maka hal itu disadari pula oleh para pendiri
bangsa ini, sehingga mereka tuangkan dalam pembukaan UUD 1945. “Bahwa Kemerdekaan
Indonesia atas berkat Rahmat Alloh swt ”
Bangsa ini merdeka karena pertolongan Alloh,
karena semangat perjuangan ummat Islam, karena fatwa jihad dari para kiyai, salah
satu diantaranya Fatwa Resolusi Jihad yg dikeluarkan Oleh KH. Hasyim Asy’ari yg
membakar semangat ummat islam utk berjuang pada pertempuran 10 November di
Surabaya, yg sampai sekarang kita peringati sbg Hari Pahlawan Nasional .
kemerdekaan negri ini diperjuangkan dg kalimat Alloh, Bung Tomo di Surabaya
meneriakan Takbir, Teuku Umar di Aceh, Imam Bonjol di Sumatra barat, Pangeran
Diponegoro di Jawa, Sultan Hasanuddin di Sulawesi mereka semua meneriakkan Takbir
Allohu Akbar.. untuk membakar semangat para pejuang dalam mengusir para
penjajah.
Juga bagaimana panglima besar Jend Sudirman yg bergerilya di tengah hutan
belantara, dalam keadaan sakit dan ditandu, namun sholat berjamaahnya tetap tak
pernah tinggal, zikirnya tetap berkumandang, maka do’a dan perjuangan mereka
inilah yg membuat kita bebas dari penjajahan dan kezaliman orang-orang kafir itu.
Maka sampaikan hal ini kpd anak2 muda generasi penerus bangsa ini, jangan
sampai mereka lupa. Jangan sampai tidak tahu.
Negri ini dibangun diatas pondasi pilar-pilar Islam. Pancasila dasar negara kita, semua butir-butirnya itu ada dalam ajaran islam. UUD itu mengandung nilai-nilai Islam. Setiap orang Islam pasti Pancasila, paham makna pancasila. Tapi setiap yg mengaku paling pancasila belum tentu dia Paham apa itu Pancasila dan bagaimana melaksanakan Pancasila.
Maka tak usah ceramahi ummat Islam tentang
pancasila, tentang kebinekaan, tentang cinta tanah air. Ummat Islam pasti cinta
tanah airnya. Cinta persatuannya.
Jangan lupa, bahwa raja-raja islamlah yg menyatukan
negri ini menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena mereka rela,
ikhlas melepas kekusaannya. Bahkan Sultan Syarif Kasim II memberikan 13 juta
Gulden (1 Triliun lebih) kepada Soekarno untuk perjuangan mempertahankan
kemerdekaan.
Maka bodoh sekali kalau hari ini ada orang-orang yg mengotak2kan kita, menyuruh kita pilih pancasila atau syariat islam. Seolah2 orang yg menegakkan syariat Islam berarti tidak pancasila, tidak cinta NKRI, anti kebinekaan. Sehingga kalimat tauhid dianggap simbol teroris, teriakan takbir dianggap ekstrimis, menegakkan ajaran islam dianggap radikalis. Maka muncullah orang-orang yg anti dg syariat Islam, bagaimana supaya nilai-nilai agama ini dihilangkan, perda2 Islam dihapuskan. Kalau melihat ummat islam ramai berkumpul mereka pun ketakutan. Padahal kita ummat Islamlah yg memperjuangkan kemerdekaan dan menjaga negri ini.
Jamaah Jumat yg dimuliakan Alloh..
80 Tahun yg lalu ditengah malam Ramadhan itu, pada
malam kemerdekaan itu para ulama, para kiyai, para pejuang, mereka bermunajat
kepada Alloh, tgl 9 Ramadhan, artinya 9 malam sudah mereka berdoa dalam tarawihnya,
dalam tahajjudnya, dalam munajatnya mereka memohon kekuatan dari Alloh, tapi
begitu 80 tahun berlalu apa yg terjadi hari ini, malam-malam kemerdekaan di berbagai
tempat, diisi dengan orgen tunggal, minum khamar, dan mempertontonkan kemaksiatan.
Di Tengah malam perayaan kemerdekaan itu akan terdengar
suara hiruk pikuk dg berbagai macam perayaan yg katanya dalam rangka syukuran
kemerdekaan, tapi sebenarnya itu bukanlah syukuran tapi kekufuran kpd Alloh.
Maka Jangan heran musibah datang silih berganti
menimpa negri ini. Musibah bukan hanya berbentuk bencana alam. Musibah bukan
hanya dalam bentuk penyakit maupun kematian.
Tapi musibah terbesar bagi negri ini adalah, ketika
Alloh angkat orang-orang yg zolim sebagai pemimpin, sebagai wakil-wakil rakyat, sebagai
pejabat di negri ini. Alloh jadikan orang-orang yg khianat itu berkuasa, sebagai hukuman
dan peringatan bagi bangsa ini. Karena banyak yg sudah menghianati perjuangan
orang2 dimasa lalu, perjuangan para pahlawan. Alloh SWT sudah mengingatkan kita
dalam firmanNYa:
وَلَوْ
اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ
مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا
يَكْسِبُوْنَ
Sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai
keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul
dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu
mereka kerjakan. (QS.Al-A’raf : 96)
Negara kita yg sungguh luar biasa kekayaan alamnya, untaian zamrud katulistiwa, tongkat dan kayu jadi tanaman. Tak ada negara lain yg punya kekayaan alam sehebat kita. Kalau negara-negara lain hanya punya 1,2, 3 kekayaan alam, tapi kita luar biasa. Hasil tambangnya dari perut bumi, emas, nikel, timah, batu bara, gas, minyak. Bahkan di atasnya pun minyak. Belum lagi hasil hutannya, hasil lautnya luar biasa kayanya.
Tapi sampai hari ini apakah itu semua sudah
menjadi berkah atau justru menjadi musibah? Apakah kekayaan alam itu menjadi
nikmat atau justru menjadi laknat? Apakah sampai hari ini itu semua sudah bisa
dinikmati oleh rakyat? Negara yg kaya raya, tapi justru hidup dari memeras
rakyat dengan pajaknya.
Maka 80 tahun sudah kita merdeka, sudahkah tercapai cita2 para pendiri bangsa? Sudahkah tercapai cita-cita para pejuang kemerdekaan? Yg dituangkan dalam sila ke 5 : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. 80 tahun sudah merdeka, Sudahkah negri ini menjadi negri yg baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghoffuur?
Jamaah Jumat yg dimuliakan Allah SWT...
Lalu apa yg harus kita lakukan? Apa yg bisa kita
lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini? Bagaimana supaya keberkahan diturunkan
Alloh untuk negri kita tercinta ini? Maka kembali kepada ayat:
وَلَوْ
اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا
Kata kuncinya adalah iman dan taqwa.
Kalau engkau punya kekuasaan dan jabatan jadilah
penguasa yg beriman dan bertaqwa, jadilah pejabat yg beriman dan bertaqwa. Rubahlah
dg kekuasaanmu, berbuatlah utk perubahan negri ini menjadi lebih baik. jangan
khianati perjuangan Pahlawan dengan korupsi dan hanya mementingkan diri
sendiri.
Kalau engkau punya bakat bisa sebagai pemimpin,
maka maju jadilah pemimpin yg adil dan amanah, yg akan membawa perubahan untuk
negri ini.
Kalau engkau hanya bisa jadi rakyat biasa, maka jadilah rakyat yg beriman
dan bertaqwa, ketika tiba masanya memilih pemimpin, jangan lagi mau disogok dg
50 rb 100 rb, lalu kau pilih juga orang-orang yg sudah jelas jahat dan hianat itu.
Kuatkan imanmu kuatkan taqwamu.
Engkau yg masih muda jadilah generasi muda yg
beriman dan bertaqwa, kalianlah generasi penerus bangsa ini, pemuda hari ini
adalah pemimpin di masa depan. Jangan sia-siakan waktu hanya sibuk dg game
online, judi online. Jangan rusak masa depan dengan narkoba, khamar dan zina.
Silahkan buat berbagai kegiatan untuk
menyemarakkan hari kemerdekaan, tapi tetap dalam batas2 yg dibolehkan agama,
jangan sampai melanggar yg haram. Jangan sampai maksiat, Mubazir dan
mendatangkan mudharat.
Sebagai orang tua, kita adalah pemimpin dalam
keluarga, Memang kita bukan penguasa yg punya kuasa membuat aturan. Tapi dalam
lingkup keluarga, kita punya kuasa terhadap anak istri..
كُلُّكُمْ رَاعٍ
وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap
kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yg
dipimpinnya”
Maka tanamkan nilai-nilai iman dan taqwa dalam keluarga kita. Tanamkan kepada anak istri nilai-nilai kejujuran, berani memperjuangkan kebenaran, berakhlak yg baik dan taat mengamalkan ajaran agama.
Maka mulai Dari lingkup yg paling kecil keluarga, kumpulan2
keluarga yg baik, akan membentuk masyarakat yg baik, dan kumpulan dari
masyarakat yg baik maka akan menjadikan negara ini negara yg baik, Baldatun Thoyyibatun
warobbun ghofur, penuh keberkahan dan rahmat Alloh SWT. Amin Ya Robbal ‘alamiin.....
DO’A UNTUK NEGRI DAN PARA PAHLAWAN
Ya Allah,
lindungilah negeri kami dan seluruh negeri kaum Muslimin. Ya Allah, jadikanlah
negeri kami aman dan tenang serta seluruh negeri kaum Muslimin. Lindungilah
para pemimpin kami, para ulama, dan para pejuang kami. Jadikanlah mereka
termasuk golongan orang-orang yang bertakwa dan saleh.
Ya Allah, rahmatilah para syuhada
kami dan orang-orang yang telah meninggal dari kalangan Muslimin. Berikanlah
mereka surga tanpa hisab, ampunilah mereka dan keluarga mereka, serta
berkahilah pengorbanan mereka dan jadikanlah itu dalam timbangan kebaikan
mereka.
LINK DOWNLOAD PDF : MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN IMAN DAN TAQWA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar